Jumat, 4 Mei 2018 18:59

Dukungan Mengalir untuk Reza, Anak Eks Wakil Bupati Sukabumi yang Niat Jual Ginjal Demi Ibunda

Reporter : Fery Bangkit 
Reza Adiwilaga (27), putra pertama mantan Wakil Bupati Sukabumi periode 2010-2015, Akhmad Jazuli (almarhum).
Reza Adiwilaga (27), putra pertama mantan Wakil Bupati Sukabumi periode 2010-2015, Akhmad Jazuli (almarhum). [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Niatan mulia Reza Adiwilaga (27), putra pertama mantan Wakil Bupati sukabumi periode 2010-2015, Akhmad Jazuli (almarhum) untuk menjual ginjalnya demi pengobatan Ibu tercinta, Nita Suryati (48) mendapat perhatian dari Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung Barat (KBB), Samsul Ma'arif.

Samsul mengaku salut, prihatin, dan turut mendoakan agar ibu dari Reza yang sedang dirawat diberikan kesehatan di Rumah Sakit Cahya Kawaluyaan. Menurutnya apa yang dilakukan Reza menjadi sebuah contoh bakti anak kepada orang tua yang diajarkan dalam agama kendati harus mengorbankan apapun demi kesembuhan ibunya.

"Saya baca informasi di media dan merasa terenyuh ada anak mantan pejabat yang ingin menjual ginjal demi pengobatan ibunya. Kebetulan rumah saya dekat dengan RS Cahaya Kawaluyaan, maka saya sempatkan tengok untuk memberikan support," kata Samsul, Jumat (4/5/2018) pagi.

Kondisi ini juga harus menjadi perhatian dan pelajaran pemerintah dalam memperhatikan para mantan pejabat yang pernah berkontribusi pemikiran terhadap daerahnya masing-masing.

Meskipun secara legal formal tidak ada nomenklatur anggaran tapi bisa melalui diskresi dari bupati, wakil bupati, atau SKPD dalam urun dana sumbangan.

Sebagai Wakil Ketua DPRD dirinya juga punya dana operasional yang bisa dialokasikan untuk keperluan darurat misalnya menengok orang sakit atau meninggal dunia.

Sementara itu Reza mengakui biaya pengobatan ibunya memang terbilang mahal karena tidak bisa dicover oleh BPJS. Dalam sehari untuk biaya obat dan ruang perawatan di ICU sedikitnya membutuhkan biaya sekitar Rp 12 juta sampai Rp 14 juta.

Dana itu harus disiapkan ketika akan dilakukan penindakan medis terhadap ibunya, jika tidak dikhawatirkan pihak rumah sakit tidak mau mengambil tindakan.

"Itu yang membebani pikiran saya setiap hari, apalagi belum ada kejelasan sampai kapan ibu ada di ruang ICU. Sementara apa yang kami punya selama ini sudah habis untuk pengobatan ibu sebelumnya," ucapnya.

Baca Lainnya