Seorang Pekerja Saat Mengumpulkan  Kulit Kina
Seorang Pekerja Saat Mengumpulkan Kulit Kina [Fery Bangkit]
News

Disebut Bisa Tangkal Virus Corona, Ternyata Kina di Bukit Unggul yang Semakin Terkikis

Limawaktu.id - Keberadaan pohon kina di Bukit Unggul Cilengkrang, Kabupaten Bandung, yang berbatasan langsung dengan Suntenjaya, Kabupaten Bandung Barat (KBB) semakin terkikis. Kondisi itu berpengaruh terhadap produksi kulit pohon kina di pabrik yang masih berada di area perkebunan milik PTPN VIII tersebut.

Kebun dan pabrik pengolahan pohon kina beroperasi sejak tahun 1927, yang berdiri di atas lahan seluas 708 hektare. Dari luasan itu, luas lahan yang ditanami kina sekitar 683 hektar. Sisanya ada hutan lindung, bangunan kantor, mes pegawai, akses jalan dan gedung pabrik pengolahan kina.

Dulunya, di Bukit Unggul menanam 4.439.500 pohon dengan asumsi 6.500 pohon per hektare dan mampu menghasilkan 100 ton tepung Kina kering. Sedangkan per hari ini hanya tersisa 683.000 pohon atau tinggal 15% saja dari jumlah ideal 1.000 pohon per hektare.

"Pabrik sekaligus tempat pengolahan di sini hanya satu-satunya yang tersisa di indonesia. Dari segi pohon, tersisa 15% saja dari jumlah ideal 6.500 pohon per hektar," ucap Manager PTPN VIII Perkebunan Bukit Unggul, Yanyan Cahyana saat ditemui, Selasa (18/3/2020).

Terus berkurangnya pohon kina disebabkan tak seimbangnya antara produksi dengan penanaman ulang, sehingga komoditi kurang dilirik PTPN III untuk ditanam kembali. Dari sisi bisnis, perusahaan juga menimbang sisi keuntungan budi daya kina yang tergolong lambat balik modal.

Masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) pohon kina membutuhkan waktu 7 tahun untuk menghasilkan uang. Berbeda dengan tanam teh dan sawit yang bisa dipanen setelah 3 tahun. Penyebab lain yang membuat kina kurang diminati adalah, banyak bermunculan bahan lain sebagai obat malaria.

"Padahal, kina juga bisa digunakan sebagai. Minuman bersoda, kosmetik dan obat," terang Yanyan.

Semakin terkikisnya pohon kina sangat berdampak pada produksinya di pabrik.
Dari jumlah pohon yang ada di lahan Bukit Unggul, bisa dihasilkan 3 ton bubuk kina dalam sebulan hasil olahan kulit kina yang diambil oleh petugas khusus yang terlatih memanen kulit kina.

"Jadi yang kita ambil dan olah untuk dijadikan bahan baku obat dari pohon kina itu kulitnya. Tapi perlu teknik khusus, karena teknik pangkas yang salah pohon mati," tuturnya.

Penurunan panen dan produksi pohon kina juga berdampak terhadap pegawainya. Dulu, tercatat ada 400 orang uang bekerja di area perkebunan dan pabrik sebab beroperasi setiap hari. Kini, jumlahnya hanya tersisa 40 orang saja.

Hasil penjualan setiap bulan terkadang tak mampu menutupi biaya operasional, seperti gaji karyawan. Untuk bisa didapat jika Kulit Kina Kering Tepung (K3T) memiliki kualitas unggul dan dihargai maksimal anak perusahaan.

"40 itu kebanyakan, karena pengeluaran lebih banyak. Saat ini juga yang efektif ke lapangan hanya 6 orang. Selebihnya banyak security karena orientasinya pada pengamanan aset," jelas Yanyan.

Kini, munculnya wacana kina sebagai obat Coronavirus Disease (Covid-19). diharapkan mampu mendorong peningkatan budidaya dan produksi kina di Bukit Unggul lebih bergairah.
Kandungan klorokuinon dalam tanaman kina disebut-sebut mampu menjadi antivirus Covid-19.

"Ya mudah-mudahan saja lebih diperhatikan. Kalau memang akan kembali digencarkan sebagai obat malaria, obat corona, dan obat lainnya idealnya mesti ada penambahan penanaman bibit. Bisa dari sekarang, tanam hari ini 7 tahun lagi baru dipanen," terangnya.  

Baca Lainnya