Petani Pisang di Desa Karangnunggal Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur
Ilustrasi Petani Pisang di Desa Karangnunggal Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur [Istimewa]
News

Desa Karangnunggal Cianjur Bisa Dikembangkan jadi Sentra Pisang

Limawaktu.id, Cianjur –   Desa Karangnunggal, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dinilai memiliki potensi ekonomi yang besar. Namun hingga kini, kekuatan di sektor pertanian, peternakan, hingga peluang wisata alam belum tergarap maksimal akibat keterbatasan infrastruktur dan pengelolaan yang masih konvensional.
Mayoritas warga menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Komoditas seperti padi, jagung, dan sayuran menjadi tulang punggung ekonomi desa. Ironisnya, produktivitas yang seharusnya bisa ditingkatkan justru terhambat oleh minimnya akses irigasi, teknologi pertanian, hingga distribusi hasil panen.

“Potensinya besar, tapi belum didukung sistem yang memadai. Petani masih mengandalkan cara tradisional dan akses pasar juga terbatas,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Kepala Desa Karangnunggal M Zamzam Mubarak mengungkapkan, dari info yang didapat dikalangan pengepul, potensi Pisang yang dihasilkan petani di Desa Karangnunggal cukup besar jika dikembangkan menjadi sentra pertanian Pisang. Pasalnya dalam sehari saja pengepul bisa menjual sekitar 12 ton buah pisang yang dihasilkan oleh para petani.

“Info yang saya dapat dari para pengepul, dalam sehari bisa mencapai 12 ton pisang yang dijual keluar daerah baik di Kabupaten Cianjur sendiri maupun keluar Cianjur,” kata Zamzam, Sabtu, 2 Mei 2026.

Dia menyebutkan wilayah Desa Karangnunggal memang merupakan wilayah pertanian maupun hutan, dari 900 hektar luas Desa Karangnunggal 50 persennya merupakaj area hutan yang menjadi aset dari Perhutani.

“50 persen dari luas Desa Karangnunggal merupakan area hutan yang dimiliki oleh Perhutani, sehingga bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata, namun  kami pun tidak bisa secara maksimal melakukan pengembangan karena keterbatasan kewenangan dan anggaran,” kata Zanzam.

Suasana indah sebuah kampung di Desa Karangnunggal Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur

Tak hanya itu, kata dia, Kondisi serupa juga terjadi di sektor peternakan. Usaha ternak yang dijalankan warga masih berskala kecil dan belum terintegrasi dengan sistem pengolahan maupun pemasaran yang jelas. Akibatnya, nilai ekonomi yang dihasilkan belum optimal.

Di sisi lain, geliat UMKM di Desa Karangnunggal sebenarnya mulai tumbuh. Namun, lemahnya pendampingan dan minimnya inovasi membuat produk lokal sulit bersaing di pasar yang lebih luas.

Potensi wisata alam yang dimiliki desa ini pun belum dikelola secara serius. Padahal, lanskap perbukitan dan nuansa pedesaan yang masih asri berpeluang besar dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis lokal.

 “Kami menyadari potensi Desa Karangnunggal sangat besar, terutama di sektor pertanian dan wisata. Namun, masih ada keterbatasan, baik dari sisi infrastruktur, sumber daya manusia, maupun pendampingan program,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah desa terus berupaya mendorong pengembangan ekonomi masyarakat melalui berbagai program, termasuk penguatan kelompok tani dan UMKM.

“Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar ada dukungan yang lebih konkret, khususnya dalam pembangunan infrastruktur dan peningkatan kapasitas masyarakat,” katanya.

Persoalan infrastruktur juga menjadi keluhan utama. Akses jalan yang belum merata serta fasilitas penunjang ekonomi yang terbatas dinilai menghambat percepatan pembangunan desa.

Tak hanya itu, Desa Karangnunggal juga berada di wilayah rawan bencana, khususnya longsor. Minimnya upaya mitigasi menjadi ancaman serius yang sewaktu-waktu dapat mengganggu aktivitas warga dan pembangunan desa.

Zamzam menegaskan, aspek mitigasi bencana juga menjadi perhatian pemerintah desa ke depan.

“Kami berharap ada dukungan dalam hal mitigasi bencana, karena keselamatan warga menjadi prioritas utama,” tegasnya.

Menurut Zamzam Diperlukan langkah strategis, mulai dari peningkatan infrastruktur, modernisasi sektor pertanian, hingga penguatan ekonomi lokal berbasis UMKM dan pariwisata. Tanpa itu, mimpi menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru akan sulit terwujud.

Baca Lainnya

Topik Populer

Radio Limawaktu Klik untuk memutar