Kamis, 15 Februari 2018 11:03

Delapan Tahun Janda Tua Tinggal di Gudang Milik PT. KAI

Reporter : Bubun Munawar
Romlah, warga RT 02 RW 20 Kelurahan Baros Kecamatan Cimahi Utara Kota Cimahi sudah delapan tahun tinggal di Gudang milik PT. KAI beserta satu cucunya.
Romlah, warga RT 02 RW 20 Kelurahan Baros Kecamatan Cimahi Utara Kota Cimahi sudah delapan tahun tinggal di Gudang milik PT. KAI beserta satu cucunya. [limawaktu]

Limawaktu.id, - Menikmati masa tenang dan nyaman saat masa tua mungkin menjadi dambaan bagi semua orang Namun, hal itu tak selamanya bisa terealisasi karena berbagai sebab. Seperti yang dialami dua janda tua warga RT 02 RW 20 Kelurahan Baros Kecamatan Cimahi Tengah Kota Cimahi ini.

Romlah, wanita kelahiran 65 tahun lalu terpaksa harus tinggal di Gudang milik PT. Kereta Api Indonesia (KAI) karena sejak dibongkarnya bangunan yang ditinggalinya selama puluhan tahun di pinggiran rel kereta api, terpaksa harus tinggal di Gudang berukuran sekitar 3x4 meter, beserta salah satu cucu kesayangannya.

Selain digunakan sebagai tempat tidur, ruangan itu dia gunakan juga sebagai dapur, untuk penerangan Romlah mendapatkannya setelah pukul 17.00 dari sambungan listrik tetangganya.

“Saya tinggal disini sejak 1994, namun beberapa tahun lalu ada pembongkaran bangunan, beruntung masih ada pegawai yang peduli, sehingga sejak delapan tahun lalu saya tinggal di bangunan bekas gudang ini,” kata Romlah, Kamis (15/2/2018).

Menurut dia, usianya yang sudah senja, membuat Romlah tak bisa lagi berjualan seperti dulu. Menghadapi kebutuhan hidup sehari-hari, dia bersama cucunya mengandalkan pemberian dari orang lain, termasuk para tetangganya.

“Biasanya ada tetangga yang memberi kami uang, ya itulah yang kami gunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari, karena kalau beras raskin sudah saya dapat,” ungkapnya.

Hal yang sama dialami wanita 75 tahun asal Cikalong, Entin Kartini. Tinggal di gubuk berukuran 2x3 meter dia tinggal sendiri dipinggiran rel kereta api stasiun Cimahi ini.

“Sudah sepuluh tahun emak tinggal disini, anak emak sekarang tinggal di Riau, kadang kasih uang kadang tidak, “ jelasnya.

Untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari dia kadang-kadang menjadi pemulung, atau mengumpulkan sisa nasi untuk dijemur lalu dijualnya kepada pembeli yang datang.

“Saya ingin mendapatkan raskin seperti yang lainnya, karena emak tak mendapatkannya,” jelasnya.

Baca Lainnya