Selasa, 7 Agustus 2018 11:00

Daerah Resapan Kritis Perparah Sedimentasi Sungai di Cimahi

Reporter : Fery Bangkit 
Tim Kecebong Tengah Membersihkan Sampah di Salah Satu Aliran Sungai di Kota Cimahi.
Tim Kecebong Tengah Membersihkan Sampah di Salah Satu Aliran Sungai di Kota Cimahi. [Limawaktu]

Limawaktu.id - Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPKP) Kota CImahi menyebutkan, Daerah Resapan di wilayah Cimahi kini semakin kritis. Resapan yang tersisa hanya menyisakan 30% saja.

Kepala DPKP Kota Cimahi, Muhammad Nur Kuswandana mengatakan, kalau dulu, daerah resapan di Cimahi itu mencapai 70% oleh pohon. Sedangkan 30% dialirkan ke sungai.

"Kalau sekarang justru terbalik, karena tidak ada pohon, resapan yang tersisa hanya menampung air 30 persen saja, mungkin juga kurang. Jadi mengalir ke sungai itu 70 persennya, sekaligus dengan sedimen," jelas Nur saat ditemui di Pemkot Cimahi, Jln. Rd. Demang Hardjakusumah, Selasa (7/8/2018).

Semakin kritisnya area resapan berdampak langsung terhadap pendangkalan sunga-sungai di Kota Cimahi. Ada empat aliran sungai yang melewati Cimahi, diantaranya Sungai Cilember, Sungai Cibeureum, Sungai Cimahi, dan Sungai Cisangkan.

Dikatakan Nur, keempat sungai utama di Cimahi itu, mengalami tiga masalah kronis, antara lain pendangkalan, penyempitan, dan pencemaran. Sedangkan masalah penyempitan badan sungai, terjadi lantaran semakin banyak bangunan yang berdiri tanpa mengindahkan aturan yang dibuat pemerintah daerah.

"Dua masalah itu diperparah dengan pencemaran oleh aktivitas industri, khususnya di Cimahi bagian selatan," kata Nur.

Untuk menurangi pendangkalan atau sedimentasi yang semakin parah, pihaknya tetap rutin melakukan pengerukan sedimen sungai yang bercampur dengan sampah, terutama pada musim kemarau ini lantaran debit air sedikit menurun.

Pengerukan sedimen di sejumlah aliran sungai di Cimahi rutin dilakukan oleh Tim Kecebong. Namun hal tersebut tak berdampak banyak pada kondisi pendangkalan.

"Tim Kecebong, terbatas anggotanya. Kami memaksimalkan 30 orang anggota untuk pengerukan sedimen di tiga kecamatan," terang Nur.

Ia melanjutkan, tugas dari Tim Kecebong sendiri hanya sebatas pada pembersihan dan pengangkatan sampah tanpa mengeruk secara menyeluruh.

"Tugasnya hanya menjaga sungai yang sering terjadi sedimentasi, mereka mengeruk dan mengangkut ke pinggir sungai agar tidak terjadi pendangkalan. Kita angkut sampah tersebut ke pinggir dan nanti pihak LH yang mengangkut untuk dibuang ke TPA," pungkasnya.

Baca Lainnya