Senin, 15 Januari 2018 20:05

Cerita Pilu Dibalik Gantung Diri Siswa di Bandung Barat

Ditulis Oleh Fery Bangkit 
Keluarga Memeprlihatkan Foto Tri Tunggal Sampurno (17) siswa SMAN 1 yang tewas gantung diri.
Keluarga Memeprlihatkan Foto Tri Tunggal Sampurno (17) siswa SMAN 1 yang tewas gantung diri. [Limawaktu]

Limawaktu.id - Sabtu, 13 Januari 2018, seorang pria bernama Tri Tunggal Sampurno memicu kehebohan saat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Aksi nekat remaja 17 tahun tersebut dilakukan di kediamannya Kampung Kancah RT 01/14, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, baik dari pihak keluarga, sekolah maupun kepolisian, aksi bunuh diri siswa kelas 1 SMA Negeri 1 Cisarua tersebut lantaran tertekan oleh sikap teman-temannya yang kerap menyuruh korban mengerjakan tugas sekolah.

Kuatno (44), orang tua korban mengungkapkan, peristiwa pilu itu berawal ketika anak bungsunya, Gampang Hartawan (6) menemukan korban tergantung kaku dan membiru di flapon kamar tidur dengan tinggi sekitar 2,5 meter. Leher korban terikat dengan kain samping batik warna biru dan dibawahnya terdapat kursi duduk.

Menurutnya, aksi nekat yang dilakukan anaknya karena tertekan oleh sikap teman-temannya di sekolah yang kerap menyuruhnya untuk mengerjakan tugas atau Pekerjaan Rumah (PR).

“Sejak masuk SMA, anak saya (korban) kerap mengeluh banyak tugas dan kerap sibuk mengerjakan tugas tugasnya itu di kamar. Mungkin itu jadi beban,” tuturnya, Senin (15/1/2018).

Dalam pandangan Kuatno, anak ketiga dari empat bersaudara itu seperti ikhlas mengerjakan tugas. Namun, tuturnya, sepertinya banyaknya pesanan tugas yang diduga dari teman-temannya itu menjadikan beban untuk korban.

“Saya sebelumnya tidak ada kecurigaan terhadap dia, ataupun pihak sekolah, masa sih anak saya senekat itu," katanya.

Fakta yang menguatkan bahwa aksi gantung diri anaknya terkuak dalam selembar kertas Houtvrij schrijfpapier (HVS). Tulisan tersebut disimpan pada tumpukan buku di kamarnya.

"Yang menguatkan kan ada surat kecil itu sedikit, kalau gak ada itu saya juga masih bingung, masalah apa dimana, kenapa," ujar Kuatno.

Temuan Sang Ayah pun diperkuat Kakak korban, Ayu Mardiana (22). "2 Januari 2018, awal masuk sekolah diejek teman kepala botak dan ada acara disekolah gagal karena gara gara-saya, merasa pecundang." tutur Ayu mengucap tulisan Tri dalam selembar kerta HVS.

Sehingga, kata dia, selain mendapat tekanan dari teman temanya itu, ia kerap diejek dan merasa salah atas kegagalan acara di sekolahnya itu.

"Jadi acara di sekolahnya, acara itu gagal gara-gara dia," katanya.

Sementara dari pihak sekolah yang diwakili Dang Iyun Zainir selaku Wakil Kepala Sekolaah SMA Negeri 1 Cisarua menuturkan, tugas yang diberikan oleh para guru selama ini mayoritas tugas bersama atau tugas kelompok.

"Dari siswa itu, ada yang senang mengerjakan tugas dan pasti ada juga yang malas. Sehingga itu yakin spontanitas dari siswa itu sendiri," ujarnya.

Ia menolak ada unsur bully yang terjadi di sekolahnya. Menurutnya, kejadian tersebut tidak terduga dan pihaknya merasa kaget atas kejadian tersebut.

"Disini tidak ada kekerasan, tekanan ataupun bully. Itu jelas spontanitas siswa pada kejadian dalam satu hari itu," ujar Dang Iyun.

Hal itu, kata dia karena sebelum maupun setelah kejadian itu, pihaknya kerap melakukan pengecekan ke setiap kelas.

"Itu agar para siswa bisa saling menjaga dan diantara siswa itu tak hanya saling simpati tapi harus empati," katanya.

Hal senada diungkapkan Kapolsek Cisarua Kompol Ana Sudarna. Menurutnya, dalam kejadian tersebut tidak ada perlakuan bully dari teman temannya, hanya saja korban mendapat tekanan ketika di sekolah dari siswa yang lain.

"Tidak ada perlakuan bully dari kejadian ini, hanya mendapat tekanan, bisa saja tekanan dari pacarnya," kata Ana.

Sebab pihak keluarga menolak dilakukan pemeriksaan, maka jajaran Polsek Cisarua tidak akan mengusut kasus tewasnya Tri Tunggal Sampurno. Hal tersebut lantaran pihak keluarga enggan untuk memperpanjang permasalah tersebut.

"Pas kejadian, keluarga menolak untuk dilakukan pemeriksaan apapun, karena sudah menganggap itu musibah," ujar Kompol Ana Sudarna.

Sementara saat kejadian, lanjut Ana, aparat kepolisian akan melakukan autopsi zenajah, namun pihak keluarga menolak dangan cara membuat surat pernyataan atas permohonan penolakannya.