Selasa, 6 Maret 2018 16:50

Bule India Bicara Soal Penerapan Zero Waste di Indonesia

Reporter : Fery Bangkit 
Internasional Zero Waste Cities Conference (IZWCC) di Gedung Technopark Cimahi, Jalan Raya Baros, Selasa (6/3/2018).
Internasional Zero Waste Cities Conference (IZWCC) di Gedung Technopark Cimahi, Jalan Raya Baros, Selasa (6/3/2018). [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Kota Cimahi didaulat menjadi salah satu daerah yang menyelenggarakan Internasional Zero Waste Cities Conference (IZWCC). Acara tersebut digelar di di Gedung Technopark Cimahi, Jalan Raya Baros, Selasa (6/3/2018).

Berbagai pembicara atau keynote speech dari berbagai negara turut hadir dalam acara tersebut. Mereka berbicara soal masalah sampah, termasuk kemungkinan penerapan sampah nol persen atau zero waste.

Salah satunya K. Vasuki, keynote speech asal India. Dikatakannya, semua negara sangat mungkin untuk menerapkan konsep zero waste seperti di negaranya. Untuk itu, kata dia, Pemerintah Indonesia, termasuk Kota Cimahi harus mulai berpikir bagaimana mengelola sampah agar tidak menimbulkan bencana.

"Pengelolaan sampah sebagai sumber daya sudah diterapkan di banyak negara, dan itu menjadi satu alternatif yang bagus," kata K. Vasuki.
Vasuki melanjutkan, sampah yang tidak dikelola dengan baik, dapat menyebabkan banyak penyakit, di antaranya Demam Berdarah Dangue (DBD) yang merenggut ratusan nyawa pada 2017, termasuk di India Selatan.

Tak hanya itu, pengolahan sampah yang tidak baik juga menyebabkan perubahan iklim, menyebabkan kekeringan sangat parah pada 2016 sampai 2017 di banyak negara karena akibat dari sampah yang menumpuk.

"Entah di Indonesia seperti apa, tapi di India Selatan sudah terasa akibatnya. 800 tahun ke depan kehidupan di bumi akan hilang kalau sampah tidak dikelola dengan baik. Perlu ada upaya lebih banyak untuk menghentikan perubahan iklim dan berbagai dampak buruk dan perilaku membuang sampah sembarang," tegasnya.

Pengolahan sampah juga bisa memanfaatkan Insinerasi dengan energy recovery, yaitu salah satu teknologi pengolahan sampah ke energi (waste-to-energy).

"Proses pembakaran tersebut bisa membuat sampah yang dibakar dengan temperatur sangat tinggi menjadi energi pembangkit listrik, namun tentu saja memiliki dampaknya," kata Vasuki.