Selasa, 18 Desember 2018 12:50

Buat Berjaga-jaga, Pemkot Bangun Toko Tani, ini Rincian Harganya

Reporter : Fery Bangkit 
 Ajay Muhammad Priatna yang me-launching langsung toko tani Kota Cimahi.
Ajay Muhammad Priatna yang me-launching langsung toko tani Kota Cimahi. [Fery Bangkit/Limawaktu]

Limawaktu.id - Untuk mengatasi ancaman krisis pangan, Dinas Pangan dan Pertanian telah membangun Toko tani Indonesia Centre (TTIC) Kota Cimahi yang diresmikan, Selasa (18/12/2018) di Lumbung Padi Merah, Ciawitali, Kota Cimahi.

Toko tani itu akan menjual produk-produk komoditas pangan yang harganya diklaim dibawah pasaran. Seperti beras yang dijual dengan harga Rp44.000/5kg, minyak goreng Rp22.000/2liter, gula pasir Rp11.000/kg, telur ayam Rp25.000/kg, daging sapi Rp90.000/kg, daging ayam Rp35.000/ekor, cabai merah Rp5.000/pack, bawang merah Rp13.500 per 1/2 kg serta bawang putih Rp12.000 per 1/2 kg.

Wali Kota Cimahi, Ajay Muhammad Priatna yang me-launching langsung toko tani Kota Cimahi itu menuturkan, keberadaan TTIC ini merupakan salah satu upaya untuk menjaga kestabilan harga dan stok pangan.

"Kami juga buatkan untuk membantu kebutuhan masyarakat, juga untuk menjaga stok pangan dan kestabilan harga. Ini bisa dibeli masyarakat umum, harganya dibawah pasar dengan kualitas yang  bagus," ujar Ajay.

Diakui Ajay, keberadaan toko tani ini tak akan bisa memenuhi kebutuhan pangan se-Kota Cimahi. Pasar tradisional tetap menjadi tumpuan utama. Namun, kata dia, setidaknya TTIC ini bisa menjadi salah akses untuk membantu masyarakat dalam pemenuhan pangan murah dan berkualitas.

"Kebutuhan pangan ini tak bisa di-stop, karena kebutuhan sehari-hari. Tapi (TTIC) ini belum tentu bisa mensuplai semuanya," katanya.

Untuk pemenuhan kebutuhan pangan di TTIC, pihaknya sudah bekerja sama dengan para petani lokal di Kota Cimahi maupun komunitas di bawah naungan Dinas Pangan dan Pertanian Provinsi Jawa Barat.

"Untuk suplai TTIC, kita koordinasi dengan pihak lain. Ada kelompok di bawah naungan Dinas Pangan Jawa Barat yang menyuplai ke sini. Misalnya beras dari kelompok daerah Subang," terang Ajay.

Dengan berbagai suplai itu, Ajay meminta kepada Dinas Pangan dan Pertanian untuk menjaga keberadaan TTIC ini. Jangan sampai ketika sudah diresmikan, tiba-tiba beberapa hari kemudian sudah tutup.

"Jangan sampai buka, seminggu kemudian tutup karena penyuplai tidak ada," tandasnya.

Baca Lainnya