Kamis, 10 September 2020 19:28

Bibir Waduk Saguling Mulai Ditanami Sayuran, Hasilnya Cukup Menggiurkan

Reporter : Fery Bangkit 
seoarang petani saat bercocok tanam di bibir waduk saguling
seoarang petani saat bercocok tanam di bibir waduk saguling [Foto Istimewa]

Bandung Barat - waduk Saguling di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mulai surut akibat kemarau. Seperti biasa, bibir waduknya mulai dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam berbagai jenis sayuran.

Seperti yang terpantau di Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin. Waduk yang tadinya dipenuhi air dengan ketinggian hingga 10 meter itu kini mulai surut dan tinggal menyisakan sekitar 5 meter. Tahun lalu, bahkan air surut hingga terlihat dasar waduknya.

Sementara di bibir waduk, puluhan petani mulai menggarap lahan gratis tersebut dengan berbagai jenis tanaman yang memiliki nilai ekonomi. Seperti timun, kacang panjang, jagung, cabai hingga padi.

"Mulai surutnya ada sekitar sebulan. Memang rutin ditanam sayuran sama warga. Nanti biasanya awal tahun airnya naik lagi," kata Ajan (45), salah seorang petani saata ditemui, Kamis (10/9/2020).

Dikatakannya, surutnya waduk Saguling ini memang memiliki manfaat bagi warga. Dimana dari lahan tersebut warga bisa menanam berbagai sayuran, yang kemudian dijual hingga menghasilkan uang. "Saya rencananya baru mau tanam jagung sama cabe," ucapnya.

Wawan (65), salah seorang petani lainnya menuturkan, sejak pensiun sebagai sopir Damri beberapa tahun lalu, dirinya kerap memanfaatkan surutnya waduk Saguling ini untuk menanam berbagai jenis sayuran. Ada sekitar 500 meter persegi lahan yang ia garap.

"Ini awal tanam saya mau nanam timun dan kacang panjang dulu," ucapnya.

Untuk menggarap lahan tersebut, ia harus merogoh kocek hingga Rp 2 juta. Uang tersebut dimanfaatkan untuk membeli benih atau bibit hingga membayar pekerja. Dalam sekali panen, lahan yang dihasilkan bisa mencapai 7-8 kwintal ton.

Sedangkan untuk kacang panjang bisa menghasilkan hingga 1 ton dalam sekali panen. "Harganya kalau lagi bagus bisa dapat Rp 6 juta kalau timun. Kalau kacang panjang bisa dapat sampai Rp 7 juta," terangnya.

Berdasarkan hasil pemantauan perkembangan musim kemarau yang dilakukan BMKG Bandung, hingga akhir Agustus 2020 menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia atau sekitar 87 persennya sudah mengalami musim kemarau.

Kondisi tersebut mengundang munculnya La Nina atau anomali iklim di Samudera Pasifik yang berpotensi mengakibatkan peningkatan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia pada saat musim hujan nanti.

"Untuk saat ini sudah masuk di musim kemarau termasuk semua wilayah di Jawa Barat," ungkap Kepala BMKG Kelas I Bandung, Tony Agus Wijaya.

Baca Lainnya