Jumat, 28 Desember 2018 13:18

Berdayakan Hasil Pertanian Lokal via TTIC

Reporter : Fery Bangkit 
Ajay Muhammad Priatna
Ajay Muhammad Priatna [FeryBangkit]

Limawaktu.id, - Keberadaan Toko Tani Indonesia Center ( TTIC) menjadi tempat alternatif petani lokal untuk memasarkan hasil taninya.

TTIC baru resmi beroperasi di Kota Cimahi pekan lalu. Lokasinya berada di Ruko Lumbung Padi Merah, Jalan Ciawitali, Kelurahan Citeureup, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi.

Sejak awal dibentuk, program garapan Kementrian Pertanian (Kementan) RI yang dibangun di Kota Cimahi ini ditujukan untuk mengakomidir hasil produk petani lokal dan menjaga kestabilan harga pangan.

Meski begitu, untuk pemenuhan pangannya lainnya seperti beras dan ayam, tetap mendapat suplai dari wilayah lain, mengingat hasil produk pangan di Cimahi yang memang terbatas.

Berdasarkan data Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Cimahi, produk pertanian lokal Cimahi hanya mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan pangan bagi warga Kota Cimahi.

Untuk sayuran, ada berbagai produk sayuran, termasuk berasal dari petani lokal Cimahi. Di antaranya cabai merah yang dijual Rp5.000/pack, bawang merah Rp13.500 per 1/2 kg serta bawang putih Rp12.000 per 1/2 kg.

Sementara ada juga pangan lain, seperti beras yang dijual dengan harga Rp44.000/5kg, minyak goreng Rp22.000/2liter, gula pasir Rp11.000/kg, telur ayam Rp25.000/kg, daging sapi Rp90.000/kg dan daging ayam Rp35.000/ekor. Harga yang dijual dikalim berada di bawah pasaran.

Wali Kota Cimahi, Ajay Muhammad Priatna menjelaskan, TTIC dibentuk untuk memudahkan konsumen menjangkau komoditas pangan yang langsung berasal dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan memberikan kesempatan petani pangan untuk memasarkan langsung komoditasnya.

"Serta upaya pengendalian harga agar sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah. Kegiatan tersebut merupakan upaya pemerintah untuk menjaga harga wajar di tingkat produsen serta mempermudah aksesbilitas pasokan dan harga di tingkat konsumen," jelas Ajay, Kamis (27/12/2018).

Dikatakannya, TTIC dapat memberikan kontribusi dalam kelancaran distribusi pangan, pemasaran komoditas pangan ke masyarakat dengan harga yang terjangkau, ketersediaan pasokan dan kemudahan akses dalam mendapatkan pangan murah. Selain itu, jelas aja, keberadaan TTIC juga diharapkan mampu memangkas mata rantai distribusi komoditas pangan yang dipasarkan langsung.

"Sehingga harga dapat selalu dikendalikan lebih rendah daripada harga pasar pada umumnya," ujarnya.

Diakui Ajay, keberadaan toko tani ini tak akan bisa memenuhi kebutuhan pangan se-Kota Cimahi. Pasar tradisional tetap menjadi tumpuan utama. Namun, kata dia, setidaknya TTIC ini bisa menjadi salah akses untuk membantu masyarakat dalam pemenuhan pangan murah dan berkualitas.

"Kebutuhan pangan ini tak bisa di-stop, karena kebutuhan sehari-hari. Tapi (TTIC) ini belum tentu bisa mensuplai semuanya," katanya.

Untuk pemenuhan kebutuhan pangan di TTIC, pihaknya sudah bekerja sama dengan para petani lokal di Kota Cimahi maupun komunitas di bawah naungan Dinas Pangan dan Pertanian Provinsi Jawa Barat.

"Untuk suplai TTIC, kita koordinasi dengan pihak lain. Ada kelompok di bawah naungan Dinas Pangan Jawa Barat yang menyuplai ke sini. Misalnya beras dari kelompok daerah Subang," terang Ajay.

Dengan berbagai suplai itu, Ajay meminta kepada Dinas Pangan dan Pertanian untuk menjaga keberadaan TTIC ini. Jangan sampai, kata dia, ketika sudah diresmikan, tiba-tiba beberapa hari kemudian sudah tutup.

"Jangan sampai buka, seminggu kemudian tutup karena penyuplai tidak ada," tandasnya.

Sekretaris Dinas Pangan dan Pertanian Kota Cimahi, Chanifah Listyarini menambahkan, keberadaan TTIC untuk mengakomodir hasil petani Kota Cimahi. Namun ke depan, kata dia, dimungkinkan juga ada produk tani lain yang dipasarkan di TTIC Kota Cimahi.

"Diprioritaskan untuk petani lokal untuk memasarkan prodak tani, dan mungkin kita akan tampung dari kabupaten kota sekitanya," katanya.

Dikatakannya, keberadaan TTIC ini akan dikelola dengan baik agar tetap eksi untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi warga Kota Cimahi. Sejak dibuka, kata dia, animo dari warga pun sangat positif.

"Kita akan kelola dengan baik dan aman tentunya, jangan sampe ada kekosongan," tandasnya.

Kemudian, ia menggambarkan kondisi kebutuhan pangan di Kota Cimahi. Menurutnya, kebutuhan pangan di Kota Cimahi tetap akan mengandalkan suplai dari luar wilayah. Saat ini, suplai pangan dari luar Cimahi mencapai 70 persen, sedangkan pemenuhan dari dalam Kota Cimahi hanya sekitar 30 persen.

"Kita kebanyakan di-support dari luar Cimahi, dari Cimahi hanya sekitar 30 persen, sisanya dari luar," terang Chanifah.

Untuk beras, ungkap Rini, sapaan akrabnya, hampir sekitar 60 persen itu Kota Cimahi disuplai dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, sementara dari wilayah Jawa Barat, seperti dari Cianjur itu sekitar 40 persen.

"Kalau yang di Cimahi (beras lokal Cimahi) hanya mencukupi kebutuhan 3 persen," katanya.

Minimnya produksi beras untuk pemenuhan pangan bagi warga Cimahi dikarenakan memang lahannya hanya sedikit. Saat ini, lahan sawah di Kota Cimahi hanya tersisa 137 hektare. Itupun bisa saja berkurang, mengingat alih fungsi lahan yang terus terjadi.

Kemudian untuk kebutuhan sayur-sayuran dan daging, lanjut Rini, Kota Cimahi mengandalkan stok dari wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kabupaten Bandung dan sekitarnya. Contoh untuk sayur-sayuran dan daging, biasanya para pedagang bisa disuplai dari Lembang, KBB.

"Kalau konsumsi (suplai sayuran dari petani Cimahi) kita baru men-support kurang lebih 20 persen. Itu di Kelompok Wanita Tani (KWT) Kota Cimahi," jelas Rini.

Baca Lainnya