Rabu, 31 Oktober 2018 17:35

Begini Penanganan Terhadap Korban Kritis dari Mahasiswa Unjani

Reporter : Fery Bangkit 
Pelatihan terhadap para siswa kelas X dan XI SMA Negeri 3 Kota Cimahi, Rabu (31/10/2018).
Pelatihan terhadap para siswa kelas X dan XI SMA Negeri 3 Kota Cimahi, Rabu (31/10/2018). [Fery Bangkit/Limawaktu]

Limawaktu.id, Cimahi - Sebanyak 206 mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Cimahi memberikan pelatihan terhadap para siswa kelas X dan XI SMA Negeri 3 Kota Cimahi, Rabu (31/10/2018).

Pelatihan yang diberikan oleh mahasiswa semester satu itu berupa bagaimana caranya memberikan penanganan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan penanganan jika merasakan sakit pada gigi.

Menurut dr. Dewi Ratih Handayani, M.Kes, selaku Wakil Dekan 3 FK Unjani mengungkapkan kemampuan kegawatdaruratan mampu meminimalisir jatuhnya korban ketika terjadi kecelakaan.

"Seseorang yang melihat kecelakaan, itu yang pertama kali mesti melakukan pertolongan pada korban. Meskipun tidak punya kemampuan medis yang cukup, setidaknya dia bisa meningkatkan potensi selamat dari korban kecelakaan," ujar Dewi saat ditemui di SMAN 3 Kota Cimahi, Rabu (31/10).

Dia menuturkan, saat ini masyarakat justru lebih banyak berkerumun 'menonton' korban kecelakaan ketimbang mereka yang membantu menyelamatkan korban saat terjadi kecelakaan.

"Seringnya masyarakat justru mengerumuni korban kecelakaan. Nanti korban malah semakin kekurangan oksigen kalau dikerumuni. Idealnya, korban diberikan ruang, bawa ke tempat yang aman, dan hubungi fasilitas kesehatan terdekat," tuturnya.

Dia menjelaskan, pembekalan kegawatdaruratan pada masyarakat penting diberikan secara berkesinambungan. "Karena yang memberikan pembekalan bukan hanya kami dari fakultas kedokteran, tapi kan ada juga dari BPBD atau dari Dinas Kesehatan," jelasnya.

Sementara itu, dr. Sisca Teli Pratiwi, M. Kes, menuturkan selain masyarakat, siswa sekolah menengah atas juga wajib memiliki keterampilan kegawatdaruratan, lantaran aktivitas mereka lebih riskan menimbulkan cedera bahkan hingga kecelakaan.

Di SMAN 3 Kota Cimahi, sebagai salah satu lokasi pembekalan bantuan hidup dasar (BHD) atau kegawatdaruratan, selain mendapatkan teori, pelajar juga penting mendapatkan praktik langsung untuk mengetahui tindakan awal apa yang mesti diberikan pada korban kecelakaan yang akan mereka bantu.

"Pembekalan BHD di sekolah memang jadi program pemberdayaan masyarakat. Selain teori, kota juga laksanakan praktiknya. Makanya kita gunakan manekin atau model untuk pembekalan kegawatdaruratan bagi pelajar agar terasa lebih nyata," ujar Susca.

Pembekalan yang diberikan pada para pelajar di sekolah tersebut antara lain cara CPR atau Cardiopulmonary Resuscitation yakni teknik kompresi dada dan pemberian nafas buatan untuk korban kecelakaan yang jantungnya berhenti.

Bagi korban yang mengalami dislokasi tulang, para pelajar diajari cara mengangkat korban tanpa membuat korban kesakitan karena cedera yang diderita.

"Yang terpenting mereka diajari untuk tidak panik ketika menghadapi korban kecelakaan yang butuh pertolongan. Kalau panik, nanti banyak kesalahan yang kadang dilakukan orang saat menolong, justru membahayakan korban," terangnya.

Baca Lainnya