Rabu, 20 Maret 2019 16:57

Banjir Sentani Diduga Akibat Tak Tepatnya Perencanaan Tata Ruang 

Reporter : Bubun Munawar
Charles Tawaru Greenpeace Indonesia Papua
Charles Tawaru Greenpeace Indonesia Papua [VOA]

Limawaktu.id - Bencana banjir bandang yang melanda Sentani Sabtu lalu (16/3), bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Peristiwa ini diduga terjadi akibat kerusakan tata ruang bertahun-tahun yang tidak ditindak.

Charles Tawaru dari Greenpeace Indonesia Papua menilai kawasan itu adalah cagar alam yang memiliki tutupan hutan lebat dan menjadi penyangga daerah resapan air. Sepanjang sejarahnya, sebelum tahun 2000, Cycloop belum pernah mengirim banjir bandang ke Sentani.

Menurutnya, banyak pemukiman dibuka untuk warga disepanjang kawasan cagar alam itu, kemudian juga untuk pertanian tradisional. 
"Karena tidak adanya resapan air, hujan ekstrim bisa lolos dan masuk ke dalam kota tanpa ada penghalangnya,” ujar Charles.

Banjir bandang besar pernah terjadi di Sentani pada 2007, atau empat tahun setelah perambahan hutan mulai dilakukan. Dua belas tahun kemudian, tepatnya pada Sabtu, 16 Maret lalu, bencana serupa kembali terjadi.

Charles melihat, Faktor perencanaan tata ruang yang kurang tepat dan diperparah dengan tidak tegasnya pemerintah menjaga cagar alam itu. Ketika perambahan terjadi, tidak ada upaya penegakan hukum.

“Seharusnya, cagar alamnya dikembalikan. Sekarang daerah resapan air itu sudah menjadi pemukiman semua,” tambah Charles
Sentani adalah sebuah kota dengan Pegunungan Cycloop yang berdiri gagah di sisi utara, dan Danau Sentani yang membentang di selatan. Air hujan yang ditangkap di kawasan gunung mengalir melewati kota dan berakhir di danau.

Sekitar tahun 2003, mulai terlihat perambahan hutan Pegunungan Cycloop, yang pelan-pelan menjadikan lereng curam itu kehilangan kemampuan menyerap dan menyimpan air. (VOA). 

Baca Lainnya