Minggu, 4 Februari 2018 19:36

Antusiasnya Bule Asal Uzbekistan Belajar Budidaya Cabai di Bandung Barat

Reporter : Fery Bangkit 
Warga Negara Asing asal Uzbekistan tampak antusias mempelajari tata cara budidaya cabai bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Wargi Panggupay di Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (4/2/2018).
Warga Negara Asing asal Uzbekistan tampak antusias mempelajari tata cara budidaya cabai bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Wargi Panggupay di Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (4/2/2018). [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Sebanyak 19 Warga Negara Asing (WNA) asal Uzbekistan tampak antusias mempelajari tata cara budidaya cabai bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Wargi Panggupay di Kampung Gandok, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (4/2/2018).

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bandung Barat, Ida Nurhamida mengatakan, pihaknya sengaja mengajak delegasi Uzbekistan berkunjung ke Gapoktan Wargi Panggupay karena gapoktan tersebut dinilai telah berhasil dalam membudidayakan tanaman hortikultura, khususnya cabai.

"Selama dua hari, Kamis-Jumat lalu, kita menerima kunjungan dari negara Uzbekistan yang ingin mengembangkan cabai di negaranya. Kebetulan, Gapoktan ini sudah berhasil membudidayakan cabai sehingga kami mengajak rombongan berkunjung ke sana," katanya, Minggu (4/1/2018).

Selain membagi ilmu soal cabai, kata dia, beberapa orang tenaga ahli bidang pertanian dari Bandung Barat juga rencananya akan didatangkan langsung ke Uzbekistan untuk membantu mengembangkan tanaman cabai di negara asia tengah tersebut.

"Di sana enggak ada cabai, pemerintahnya rencananya akan menanam cabai dengan cara green house karena faktor cuaca negara tersebut yang memiliki empat musim," ujarnya.

Ketua Gapoktan Wargi Panggupay, Ulus Pirmawan mengungkapkan,
perwakilan negara Uzbekistan terkesan dengan budidaya cabai di Indonesia. Ditambah, pemerintahnya juga sudah mampu menstabilitasi harga pangan, khususnya cabai.

Ketika harganya naik, pemerintah adakan operasi pasar. Tapi ketika turun, kelompok tani langsung menjualnya ke pasar atau konsumen, sehingga harganya tak terlalu rendah dan menguntungkan petani maupun konsumen, inflasi juga bisa dihindari.

"Mudah-mudahan, nanti kita bisa bekerja sama dengan Uzbekistan, bukan hanya di pengembangan sektor pertanian saja, tapi kita juga bisa mengekspor hasil pertanian, termasuk cabai," bebernya.

Uzbekistan memiliki 4 musim, suhu rata-rata saat musim panas mencapai 40 derajat celcius sedangkan saat musim dingin, suhu udara turun drastis hingga -23 derajat celcius.

Namun demikian, negara tersebut cukup maju di bidang pertanian, khususnya kapas. Ulus menyatakan, dengan rekayasa teknologi pertanian, budidaya cabai sangat potensial dikembangkan di sana.

Selain Uzbekistan, dia mengaku, negara-negara di kawasan benua Asia, Afrika dan Australia seperti Taiwan, Jepang, Singapura, Malaysia dan Kenya juga pernah mengunjungi kawasan pertanian di kampung tersebut.

"Kunjungan dari Uzbekistan ini mungkin terkait diraihnya penghargaan dari organisasi pangan dunia (FAO). Mudah-mudahan, ini menjadi kebanggaan bagi petani, pelaku pemasaran dan pemerintah, agar bidang pertanian di kita bisa lebih maju lagi," pungkasnya.