Selasa, 26 Juni 2018 20:08

Aktifitas Bagi-bagi Kaos Saat Masa Tenang Ciderai Proses Demokrasi

Reporter : Fery Bangkit 
Kaos Pasangan Akur yang dibagikan saat masa tenang.
Kaos Pasangan Akur yang dibagikan saat masa tenang. [Limawaktu]

Limawaktu.id - Pengamat Politik Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Arlan Sidha menyebutkan, aktifitas Bagi-bagi Kaos bermuatan politik saat Masa Tenang Pilkada merupakan tindakan pelanggaran.

Seperti diberitakan sebelumnya, tim sukses paslon Aa Umbara-Hengky Kurniawan (Akur) yang 'tercyduk' membagikan kaos bergambar Akur kepada warga di Kampung Cijeunjing, Desa Kertamulya, Kecamatan Padalarang, pada 24 Juni 2018.

Padahal, 24 Juni merupakan pelaksanaan masa tenang, dan akan berakhir pada 26 Juni. Pada masa tenang sendiri, seluruh paslon dan tim sukses dilarang melaksanakan politik.

"Kegiatan membagi kaos paslon ini masih berkaitan dengan kampanye dan termasuk pelanggaran. Apalagi kaos tersebut bergambar dan dibagi-bagi kepada masyarakat," kata Arlan saat dihubungi via pesan singkat, Selasa (26/6/2018).

Arlan menilai, kegiatan bagi-bagi kaos bermuatan politik saat masa tenang akan membuat gaduh dan mencederai proses demokrasi di Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Hal tersebut jelas melanggar aturan. Pasalnya, seluruh tahapan kampanye sendiri sudah diatur dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) nomor 4 tahun 2017 tentang Kampanye.

"Yang jelas akan gaduh dan akan mencederai proses demokrasi," tegas Arlan.

Dirinya menjelaskan, masa tenang adalah masa dimana aktifitas Pilkada, termasuk kampanye terhenti. Tujuannya, untuk memberi ruang kepada masyarakat dalam menentukan pilihan.

"Sehingga masyarakat yakin akan pilihannya," ucapnya.

Artinya, kata Arlan, masa tenang ini sama sekali tidak boleh ada aktifitas kampanye dari semua peserta Pilkada.

Sebelumnya, Edy Abdulah (44), salah seorang warga menuturkan, pembagian kaos itu berlangsung pada pagi hari. Mengetahui bahwa pembagian kaos beratribut paslon dilakukan pada masa tenang, dia bersama sejumlah warga lainnya langsung menyergap orang-orang yang membagikan kaos tersebut.

"Jadi baru tertangkap ada satu kaos yang dibagikan, dia langsung kabur. Namun, di dalam mobilnya itu saya rasa masih banyak kaos yang mau dibagikan. Anak-anak mau mengejar, saya larang. Saya bilang langsung saja dilaporkan ke panitia pengawas kecamatan," kata Edy, saat dihubungi melalui telefon, Selasa (26/6/2018).

Laporan ke Panwascam itu, lanjut dia, telah disertai dengan barang bukti berupa kaos yang dibagikan. Pihak terlapor juga turut disertakan, karena Edy mengenal orang yang membagikan kaos.

Laporan itu pun kemudian ditindaklanjuti oleh Panitia Pengawas Pemilu KBB. Pada Selasa pagi, Edy mengaku telah dimintai klarifikasi oleh Panwaslu KBB.

"Yang terlapor ada, tadi diundang juga ke Panwaslu tapi sepertinya tidak hadir. Tadi saya sudah dimintai klarifikasi, jadi yang sudah diperiksa itu ada pelapor seorang dan saksi tiga orang. Kami sudah beres pemeriksaannya, tinggal tindak lanjut Panwaslu terhadap pihak terlapor," bebernya.

Walaupun tidak disertai uang, menurut Edy, pembagian kaos itu pun disertai dengan ajakan untuk memilih Akur pada hari pencoblosan, 27 Juni 2018.

"Pas kemarin itu kaos saja, kami tidak menemukan pembagian uang. Namun, di situ ada ajakan untuk memilih. Jadi, diam-diam ada kampanye padahal ini sudah masuk masa tenang," ujarnya.

Dia berharap, pelaporan tersebut dapat ditindaklanjuti oleh Panwaslu, sehingga membuat jera pihak-pihak yang melakukan kecurangan pada pilkada.

"Kami akan terus berjaga agar pilkada ini bisa berlangsung damai, agar proses demokrasi berjalan dengan baik. Di wilayah harus konfusif, masyarakat juga harus taat hukum," tukasnya. 

Baca Lainnya