Selasa, 16 Juli 2019 14:47

Ada Uji Emisi lagi, Seperti apa Kualitas Udara di Kota Cimahi? 

Reporter : Fery Bangkit 
Petugas tengah melakukan uji emisi berkala oleh PKB (Pengujian Kendaraan Bermotor.
Petugas tengah melakukan uji emisi berkala oleh PKB (Pengujian Kendaraan Bermotor. [ferybangkit]

Limawaktu.id - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi mengklaim kualitas udara perkotaan di Kota Cimahi masih cukup baik. Hal itu berdasarkan data hasil uji emisi yang dilakukan tahun sebelumnya.

"Kalau dari hasil uji emisi tahun 2018, kementerian (Lingkungan Hidup dan Kehutanan) itu menyebutkan bahwa kualitas udara di Kota Cimahi itu baik," kata Kepala Bidang Penataan Hukum Lingkungan Hidup DLH Kota Cimahi, Yani Rijaningsih saat ditemui disela-sela pelaksanaan uji emisi di Jalan Gedong Opat, Cimahi, Selasa (16/7/2019).

Dikatakannya, baiknya kualitas udara di Kota Cimahi itu karena pihaknya selalu melakukan pengendalian dan pencegahan pencemaran udara serta mewujudkan prilaku sadar lingkungan baik dari sumber industri maupun kendaraan bermotor.

Salah satunya adalah dengan melakukan uji emisi yang rutin dilakukan setiap tahun. Seperti yang dilaksanakan Selasa (16/7/2019), dan akan dilaksanakan hingga tiga hari ke depan. Tujuan utamanya adalah mengetahui kualitas udara di Kota Cimahi.

"Jadi dari hasil uji emisi itu kita bisa mengetahui apakah kualitas udara di perkotaan itu baik atau tidak baik," ujar Yani.

Dikatakannya, yang menjadi sasaran utama dalam uji adalah kendaraan pribadi dan kendaraan dinas. Pihaknya menargetkan 1.500 kendaraan bisa diuji tahun ini.

"Sasarannya untuk saat ini kendaraan diluar kendaraan umum, Karena angkutan umum, seperti angkot sudah uji emisi berkala oleh PKB (Pengujian Kendaraan Bermotor)," katanya.

Ia menjelaskan, kendaraan ini sangat penting untuk dilakukan uji emisi. Sebab, kendaraan menjadi menyumbang polusi udara dari emisi gas buang sehingga perlu diuji kadar emitennya.

Proses uji emisi gas buang tersebut dilakukan dalam kondisi kendaraan berhenti namun mesin tetap menyala. Petugas kemudian memasukkan opacity meter ke knalpot untuk mengukur kadar hidrocarbon dan CO.

Yani menyebutkan untuk kendaraan berbahan bakar bensin keluaran tahun 2007 ke bawah, kandungan CO-nya harus di bawah 4,5 dengan kandungan HC-nya 1.200. Sedangkan kendaraan keluaran 2007 ke atas kandungan CO-nya sebesar 1,5 dan kandungan HC-nya di angka 200. 

Untuk kendaraan berbahan bakar solar keluaran di bawah tahun 2010, opasitasnya maksimal di angka 70 persen. Untuk kendaraan keluaran di atas 2010, kadar opasitasnya maksimal 40 persen.

"Kalau lulus uji emisi nanti akan kita beri stiker khusus. Kalau tidak lulus kami imbau agar pengemudi segera melakukan service kendaraan dan uji emisi berkala tiap 6 bulan," ungkapnya.

Baca Lainnya