Rabu, 20 September 2017 16:28

Soal PCC Polres Cimahi Hanya Sidak 3 Apotek, Yang Lainnya?

Kriminal Peredaran PCC
Petugas Satuan  Narkoba Polres Cimahi sedang melakukan  Sidak disebuah apotek.
Petugas Satuan Narkoba Polres Cimahi sedang melakukan Sidak disebuah apotek. [limawaktu dok]

Limawaktu.id, - Menyeruaknya peredaran tablet Paracetamol, Caffein dan Carisoprodol (PCC), Satuan Narkoba Polres Cimahi menggelar Inspeksi Mendadak (Sidak) pada Rabu (20/9/2017).

Sayang, Sidak dilakukan hanya di tiga apotek dan satu toko obat saja, dari sekitar 70 apotek dan 15 toko obat yang ada di Kota Cimahi.

Berdasarkan pantauan, Sidak dimulai pukul 12.00 WIB dari apotek Wulandari dan Serumpun Bambu, Jalan Gatot Subroto. Kemudian apotek Mahkota di Jalan Gandawijaya.

Hasilnya pun nihil, pasalnya sama sekali tidak ditemukan obat keras yang dituju. Lalu, bagaimana di apotek dan toko obat lainnya yang tidak dicek?

Kasat Narkoba Polres Cimahi, AKP Wahyu Agung menjelaskan, Sidak kali ini memang hanya untuk mengecek dan menghimbau apotek agar tidak memperjualbelikan obat terlarang.

"Saat ini kita hanya pengeccekan saja bahwa di apotek yang kita periksa steril, tidak ada bahan-bahan yang sifatnya disimpan untuk diperjualbelikan bebas" ujarnya saat ditemui disela-sela Sidak Rabu (20/9/2017).

Namun, tegas Wahyu, jika kedapatan ada apotek yang menjual obat keras dan terlarang, maka sanksi akan menanti mereka.

"Pasti kita akan panggil yang bersangkutan dan akan dicabut izinnya sementara oleh yang berwenang," tegasnya.

Selain mengecek obat-obatan, Dinas Kesehatan Kota Cimahi yang ikut melakukan sidak, turut memeriksa surat izin apotek dan izin praktik apotekernya

"Kami melakukan pengecekan terkait izin sarananya, dari total sekitar 70 apotek yang ada itu sekitar 65 diantaranya sudah berizin, sisanya masih proses pengajuan izin," ujar Elly Herlia, Kepala Seksi Kefarmasian dan Alkes, Dinas Kesehatan Kota Cimahi.

Dikatakan Elly, dari hasil pemeriksaan rutin yang dilakukan, rata-rata yang menjual obat-obatan keras tanpa resep itu justru toko obat yang tidak berizin.

"Tapi itu bukan ranahnya kami (Dinas Kesehatan). Peredaran psikotropika itu ranahnya BNN. Kita hanya mengawasi apotek yang berizin saja," katanya. (kit)