Rabu, 21 Februari 2018 15:53

Pelaku Teror Terhadap Pemuka Agama Harus Dites Kejiwaan

Reporter : Fery Bangkit 
Ilustrasi.
Ilustrasi. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Akhir-akhir ini, mereka yang dicap dan diduga mengalami gangguan jiwa tengah diperbincangkan. Pasalnya, mereka diduga kerap melakukan aksi teror hingga kekerasan terhadap pemuka agama.

Di Kota Cimahi, teror itu dialami langsung oleh pemuka agama, yakni Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Anwar, Muhammad Nuryadi atau Buya Nur. Pelaku teror itu lagi-lagi diduga gila.

Dimata Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Cimahi, dr. Fitriani Manan, fenomena teror orang yang diduga gila terhadap pemuka agama yang dilakukan perlu dilakukan pemeriksaan lebih dalam.

Dikatakannya, pemeriksaan harus dilakukan ahli kejiwaan untuk mengetahui kebenaran apakah pelaku teror tersebut memang gila atau tidak.

“Kita gak usah su'udzon dulu karena kan sekarang mah serba dipolitisasi,” kata Fitriani saat ditemui di Pasirkaliki, Cimahi, Rabu (21/2/2018).

“Harusnya ada pemeriksaan secara medis seperti misalnya ada pemeriksaan khusus dari tim kejiwaan yang menentukan itu memang bener atau tidak. Sakit jiwa atau pura-pura gila itu kan beda,” tambahnya.

Jika memang gila, jelas Fitriani, secara psikologi, orang gila itu ada yang bisa diatur, ada juga yang tidak bisa diatur.
“Ada yang bisa dikendalikan ada yang tidak tergantung tingkat gangguan jiwa,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Kantor Kesatuan Bangsa (Kesbang) Kota Cimahi mendorong kepolisian untuk segera mengamankan pelaku dibalik aksi teror terhadap para pemuka agama.

Pasalnya, menurut Totong Solehudin, aksi teror terhadap pemuka agama, termasuk yang terjadi di Kota Cimahi cukup ganjil. Bahkan, ia mencurigai ada dalang dibalik aksi teror tersebut.

"Urusan pengamanan itu urusan kepolisian. Segera bisa menemukan siapa sebenarnya kalau ada desainernya," kata Totong.

Menurut Totong, keganjilan bisa dilihat dari para pelaku yang diduga gila. Ia mengibaratkan, macan saja yang galak kalau tidak ada gangguan tidak akan menyerang. Begitupun orang gila, bila tidak ada mengganggu, orang gila tersebut tidak akan peduli dengan sekitarnya.

Selain itu, kata dia, bisa saja orang gila itu diatur dengan cara dihipnotis. Pasalnya, menurut dia, orang yang tidak mengalami gangguan jiwa saja mudah untuk dihipnotis. Apalagi orang yang mengalami gangguan kejiwaan alias gila.