Sabtu, 13 Januari 2018 10:46

Oknum Guru Ngaji Kembali Berulah, 11 Santrinya 'Digarap'

Reporter : Yulie Kusnawati
AS, oknum guru ngaji.
AS, oknum guru ngaji. [Limawaktu]

Limawaktu.id - Lagi-lagi oknum Guru ngaji melakukan perbuatan tak senonoh para anak didiknya sendiri. Kejadian kali ini terjadi di Jalan Terusan Pasir Koja, Kelurahan Babakan Tarogong, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung. 

Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Hendro Pandowo mengatakan, kejadian ini diketahui awal mula dari adanya pelaporan dari salah satu orang tua korban, bahwa putrinya di perlakukan tidak senonoh oleh guru ngaji. Sejumlah korban tersebut, diantaranya, Mawar (7), Melati (6), Kenanga (5), Matahari (8), Lily (6), Tulip (8), Sakura (8) dan Anggrek (6).

"Seorang guru tersebut berinisial AS (67), dia dilaporkan sejumlah orang tua yang menitipkan anaknya pada AS untuk belajar karena perbuatan cabul terhadap anak di bawah umur," kata Hendro saat memberikan keterangannya, Jumat (12/1/2018).

Akibat perbuatannya, lanjut Hendro, pihaknya melakukan penahanan terhadap pelaku tersebut. "Ini kasus memprihatinkan buat kita semua, selaku orang tua ke depan untuk menjaga putra-putri kita dari orang-orang tak bertanggung jawab," ungkapnya.

Dia pun menjelaskan, pelaku telah melakukan perbuatannya sejak Januari tahun lalu. Dalam menjalankan‎ aksinya, ia mengiming-imingi korban dengan imbalan sejumlah uang.

"Tersangka melakukan aksinya dengan memegang, mengusap, mencolok kemaluan korban dan korban disuruh memegang kemaluan tersangka. Selama setahun dia memberi pelajaran pada murid-muridnya, tersangka melakukan perbuatan cabul tersebut dengan mengiming-iming uang pada para korban," jelasnya.

Lebih lanjut lagi, Hendro menerangkan, menurut pengakuan pelaku, ia melakukan aksinya kepada para korban lebih dari lima kali. Dan korban bukan hanya satu orang namun sebanyak sebelas orang.

"Tersangka melakukan perbuatannya dengan merekamnya," ujarnya.

Akibat perbuatannya, ucap Hendro, pelaku dijerat dengan Pasal 82 dan 75 Undang-undang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun. "Hingga saat ini, penyidik  masih terus melakukan penyelidikan ‎karena khawatir terdapat korban lainnya," pungkasnya. (lie)*