Kamis, 18 Januari 2018 16:42

Guru Ngaji Cabul Ini Hanya Diam Saat Diperiksa Polisi

Reporter : Fery Bangkit 
AA (43) memilih bungkam saat dilakukan pemeriksaan lanjutan di Mapolres Cimahi.
AA (43) memilih bungkam saat dilakukan pemeriksaan lanjutan di Mapolres Cimahi. [Limawaktu]

Limawaktu.id,– Tersangka pencabulan hingga persetubuhan terhadap anak dibawah umur berinisial AA (43) lebih memilih bungkam saat dilakukan pemeriksaan lanjutan di Mapolres Cimahi, Jalan Amir Mahmud, Kamis (18/1/2018).

Guru ngaji asal Kampung Karangsari RT 02/13 Desa Cihanjuang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat itu tidak menjawab semua pertanyaan yang diajukan penyidik Satreskrim Polres Cimahi.

Apalagi, ketika penyidik mengajukan pertanyaan soal jumlah korban yang telah ia cabuli. AA hanya diam membisu.

Kasatreskrim Polres Cimahi, AKP Niko N Adiputra mengatakan, selama menjalani pemeriksaan, tersangka AA ini tidak pernah menyebutkan total jumlah korban yang telah dicabuli serta disetubuhi.

“Tersangka pada dasarnya tidak pernah menyebutkan nilai (jumlah korban) yang pasti. Tetapi tersangka menyampaikan bahwa kejadian tersebut beberapa kali,” katanya di Mapolres Cimahi, Kamis (18/1/2018).

Kedok kebusukan tersangka mulai terkuak saat korban, yang tak lain ialah santrinya sendiri berinisial NH (15) melaporkan kelakukan bejat sang guru ngaji kepada Satreskrim Polres Cimahi tanggal 9 Januari 2018.

Hingga saat ini, terang Niko, jumlah korban yang telah melapor berjumlah tujuh orang. Semua pelapor atau korban masih di bawah umur.

“Di luar dari pada itu tidak menutup kemungkinan adanya korban lain. Kami masih melakukan pemeriksaan baik melakukan pencarian terhadap korban,” ujar Niko.

Ia meminta jika masih ada korban yang merasa dirugikan oleh aksi tersangka untuk segera melaporkannya ke Satreskrim Polres Cimahi.

Modus yang dipakai tersangka untuk merayu santrinya sendiri ialah dengan dalih bisa mengobati, tentunya disesuaikan dengan keinginan korban.

“Ada beberapa bentuk lain seperti ingin terlihat cantik,” ucapnya.

Terkait trauma yang dialami para korban, lanjut Niko, pihaknya telah berkoordinasi dengan Pusat Pelayanan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Bandung Barat.

“Jadi dari instansi terkait yang akan menyembuhkan traumatic healing dari para korban pencabulan,” tandasnya.

Atas perbuatannya, tersangka akan dijerat Pasal 81 dan Pasal 82 Undang-undang Perlindungan Anak dengan ancaman 15 tahun penjara.