Selasa, 16 Oktober 2018 14:57

Dua Tersangka Pengeroyok Pendukung Persija Jakarta Terancam Penjara 7 Tahun

Reporter : Fery Bangkit 
Sidang perdana kasus yang menewaskan Haringga digelar di ruang sidang anak dan tertutup untuk umum, di Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Selasa (16/10/2018).
Sidang perdana kasus yang menewaskan Haringga digelar di ruang sidang anak dan tertutup untuk umum, di Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Selasa (16/10/2018). [Fery Bangkit/Limawaktu]

Limawaktu.id, Bandung - Dua tersangka pengeroyok suporter Persija Jakarta, Haringga Sirila, yakni SM (17) dan DF (16) terancam hukuman enam hingga tujuh tahun enam bulan.

Kedua tersangka yang masih di bawah umur itu didakwa dengan dakwaan alternatif, yakni pasal 338 KUHPIdana tentang pembunuhan atau pasal 170 KUHPidana tentang penganiyaan atau pengeroyokan.

Baca Juga : Anak Dibawah Umur jadi Tersangka Kasus Tewasnya Anggota The Jak Mania

Sidang perdana kasus yang menewaskan Haringga digelar di ruang sidang anak dan tertutup untuk umum, di Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Selasa (16/10/2018).

Dalam sidang yang dipimpin hakim tunggal Tardi, Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Bandung Melur Kimaharandika menyatakan, kedua pelaku anak terbukti dengan sengaja merampas nyawa orang lain, yakni korban Haringga Sirla. Perbuatan keduanya dilakukan bersama-sama, baik sebagai yang melakukan atau yang turut melakukan. 

Baca Juga : Kekerasan Anak di Bawah Umur Semakin Mengerikan

Kejadian tersebut berawal pada 23 September 2018 saat digelarnya pertandingan Persib Bandung melawan Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), korban yang merupakan pendukung Persija datang untuk menyaksikan pertandingan. Di satu sisi banyak Bobotoh di luar pagar gerbang atau parkiran yang melakukan sweeping.

”Saat itu saksi Febri melihat korban tengah disweeping dengan diperiksa handphone dan dompet. Kemudian ada seorang Bobotoh yang berteriak. Di sini ada the Jack, the Jack Anjing, the Jack anjing,” katanya dalam berkas dakwaan.

Baca Juga : Peragakan 16 Adegan, Joko 'Keukeuh' tak Terlibat Aksi Keroyok Suporter Persija

Kemudian banyak Bobotoh yang menghampiri dan langsung melakukan pemukulan secara membabi buta, baik dengan tangan kosong ataupun menggunakan alat seperti helm, batu dan kayu balok. Kejadian tersebut juga disaksikan Adang Ali pedagang Cuanki yang tengah jualan sejarak satu meter dari lokasi pengeroyokan. 

Pelaku anak satu (SM) yang saat itu tengah minum kopi di warung mendengar keributan, dan langsung menghampiri korban yang sudah berlumuran darah tengah dikeroyok dengan posisi duduk dengan tangan melindungi kepala dan masih dalam keadaan sadar meskipun berlumuran darah. 

Baca Juga : Dua Pengeroyok Suporter Persija Jakarta Segera Disidangkan

“Kemudian pelaku anak satu emosi dan memukul punggung korban dengan tangan kosong dua kali, bahkan pelaku anak satu kembali memukul korban dengan menggunakan keling,” ujarnya. 

Selain pelaku satu, pelaku dua yang menyaksikan pengeroyokan tersebut juga tersulut emosinya. Dia menendang punggung dan perut korban sebanyak dua kali. Akibat perbuatan yang dilakukan anak pelaku satu dan dua serta bobotoh lainnya, korban meninggal dunia dengan beberapa luka terbuka di kepala dan badannya.

Akibat perbuatannya, pelaku anak satu dan dua didakwa Pasal 338 juncto pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP juncto UU No 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan anak sebagaimana dakwaan kesatu, atau  pasal 170 KUHP juncto pasal 55 ayat 2 ke-3 KUHP juncto UU No 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan anak sebagaimana dakwaan kedua.

Sidang dilakukan secara marathon dan langsung pemeriksaan para saksi, di antaranya saksi pelapor, dan empat pelaku dewasa sebagai saksi mahkota, dan sidang pun ditunda pekan depan dengan agenda tuntutan.

Usai persidangan salah satu Tim JPU Kejari, Edi mengaku jika semua dakwaannya bisa terbukti. Para pelaku anak dijerat pasal alternatif, yakni pasal 338 KUHPidana dan Pasal 170 KUHPidana. 

"Ancaman maksimalnya pasal 170, 12 tahun dan pasal 338 selama 15 tahun. Karena pelakunya anak, hukumannya setengah dari ancaman maksimal,” ujarnya. 

Baca Lainnya