Kamis, 11 Januari 2018 15:26

Berdalih Pengobatan Batin, Ketua Yayasan Ponpres Cabuli Santrinya

Ditulis Oleh Yulie Kusnawati
Kasubag Humas Polres Bandung, AKP Eti Mulyati memerikan sejumlah pertanyaan kepada pelaku.
Kasubag Humas Polres Bandung, AKP Eti Mulyati memerikan sejumlah pertanyaan kepada pelaku. [Limawaktu]

Limawaktu.id - Nama Pondok Pesantren (Ponpes) yang berada di Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, tercoreng akibat ulah sang ketua yayasan yaitu yang berinisial AL (41) yang melakukan pencabulan terhadap santrinya sendiri, yakni WA (17), sisiwi kelas 12 di salah satu ruangan komplek Ponpes.

Kapolres Bandung, AKBP M. Nazli Harahap yang diwakili oleh KBO Reskrim Polres Bandung, Iptu Fitran mengungkapkan, aksi tindak pidana yang dilakukan pelaku terhadap santrinya tersebut dilakukan sejak Mei hingga November 2017 lalu. Sehingga, lanjut Fitran, pihaknya awal mengetahui kejadian ini dari orang tua korban, dari laporan tersebut petugas langsung melakukan penangkapan terhadap pelaku pada Minggu (7/1/2018).

"Kejadian berawal dari laporan sekitar Rabu (3/1/2018) dimana pacar korban melapor kepada orang tua korban, yang mana korban mengaku dicabuli oleh lelaki berinisial AL," kata Fitran saat memberikan keterangannya di Ruang Reskrim Polres Bandung, Kamis (11/1/2018).

Setelah dilakukan pengembangan, kata Fitran, pihaknya mendapatkan titik terang bahwa pelaku melakukan aksinya tersebut bukan hanya terhadap WA, namun ada lima santri lagi yang diduga menjadi korban perbuatan tak senonoh pelaku.

"Pelaku merupakan ketua yayasan salah satu pondok pesantren di Pacet, aksinya tersebut dilakukan sejak bulan Mei hingga November 2017 lalu dengan 10 kali menyetubuhi korban," ungkapnya.

Dia pun menjelaskan, modus yang dilakukan pelaku hingga bisa menyetubuhi dengan terlebih dahulu menyuruh korban membersihkan salah satu ruangan kantor di pesantren yang dijadikan tempat istirahat pelaku. Kemudian setelah korban berada di ruangan, dengan dalih pengobatan batin, korban diraba-raba dan disetubuhi. "Setiap melakukan aksinya, pelaku mengancam kepada korban tidak akan diikutsertakan dalam ujian nasional," jelasnya.

Fitran juga menegaskan, pelaku tersebut akan dijerat dengan pasal 81-82 Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman penjara minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun. (lie)*