Selasa, 7 Agustus 2018 19:05

Aktor Utama Pembuatan Video Porno Anak Dibawah Umur Terancam Denda dan Kurungan Tujuh Tahun

Reporter : Fery Bangkit 
ilustrasi
ilustrasi [pixabay]

Limawaktu.id, - Pelaku utama pembuatan video porno anak dibawah umur, M Faisal Akbar dituntut hukuman tujuh tahun penjara denda Rp 250 juta, subsider kurungan enam bulan.

Hal itu terungkap dalam sidang tertutup kasus dugaan pembuatan video porno anak di bawah umur di Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Selasa (7/8/2018).

Dalam amar tuntutannya, JPU Kejati Jabar Rika menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan berperan dalam memproduksi dan mengarahkan anak di bawah umur untuk beradegan asusila pada April dan Agustus 2017.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa selama tujuh tahun penjara, denda Rp 250 juta subsider enam bulan kurungan,” katanya.

Faisal terbukti bersalah sebagaimana diatur dalam pasal 82 Undang-undang Nomor 35/2014 Tentang Perlindungan Anak, Pasal 2 Undang-undang Nomor 21/2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Dan pasal 29 Undang-undang Nomor 44/2008 tentang Pornografi serta Pasal 27 Undang-undang Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Sementara empat terdakwa lainnya yaitu Susanti ibu dari anak di bawah umur inisial D, Herni ibu dari anak di bawah umur SP, Intan sebagai pemeran, Ismi sebagai penghubung antara si anak di bawah umur dengan pemeran, dituntut lima tahun penjara.

Kasus tersebut berawaldari pertemanan Faisal dengan komunitas Rusia di Facebook bernama VIKA. Berawal dari mengirimkan foto porno berupa editan antara seorang anak dan perempuan dewasa pada akhir bulan April, Faisal pun mendapatkan pujian dari komunitas tersebut.

Setelah mengirimkan foto dan mendapat komentar positif, terdakwa Faisal mendapat tawaran dari R yang mengaku orang Kanada untuk membuat video mesum dengan imbalan bayaran uang.

‎Faisal pun menyanggupi tawaran tersebut dan kemudian meminta bantuan untuk mencarikan anak laki-laki kepada Cici dan Ismi. Mereka kemudian membuat video tersebut di bulan Mei dan Agustus 2017 lalu di dua hotel di Kota Bandung. Setelah video itu jadi, tersangka Faisal mengirimkan video itu kepada R (orang Kanada) melalui media sosial telegram. Dia dibayar pertama Rp 6 juta, Rp 8 juta, dan 16 juta. Jadi total semuanya Rp 31 juta.

Baca Lainnya