Kamis, 24 Mei 2018 19:42

Aktor Utama Pembuat Video Porno Anak dengan Wanita Dewasa Terancam Bui 20 Tahun

Reporter : Fery Bangkit 
Sidang kasus dugaan pembuatan dan penyebaran video porno anak di Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Kamis (24/5/2018).
Sidang kasus dugaan pembuatan dan penyebaran video porno anak di Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Kamis (24/5/2018). [Limawaktu]

Limawaktu.id - Aktor utama pembuat Video porno Anak di bawah umur dengan perempuan dewas, M Faisal Akbar terancam dihukum selama 20 tahun penjara.

Faisal dijerat dakwaan berlapis, mulai dari Undang-undang fornografi, Undang-undang ITE, hingga Undang-undang Perlindungan Anak, dan Undang-undang Trafficking.

Dalam dakwaannya, Tim JPU Kejati Jabar Rika mendakwa Faisal Akbar dengan dakwaan berlapis, pertama pasal 82 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak, kemudian Pasal 2 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

Hal tersebut terungkap dalam sidang kasus dugaan pembuatan dan penyebaran video porno anak di Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Kamis (24/5/2018).

"Juga pasal 29 Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi serta Pasal 27 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)," kata Rika dalam berkas dakwaan.

Sementara itu usai persidangan, kuasa hukum Faisal, I Made Agus Rediyudana menyebutkan, kliennya didakwa sebagai orang yang membuat video, mengarahkan (adegan), menyebarkan ke orang asing (Rusia), dan perekrut, serta dikenakan juga undang-undang perlindungan.

"Ancamannya maksimal 20 tahun. Sidang langsung dilanjutkan pemeriksaan saksi pekan depan," katanya.

Agus mengaku tidak mengajukan eksepsi lantaran semua yang ada dalam dakwaan diakui Terdakwa dan sudah dituangkan dalam Berkas Acara Pemeriksaan (BAP).

Dalam berkas terpisah, terdakwa Susanti dan Herni yang membiarkan anaknya berperan sebagai pemeran video porno dengan Imelda dan Apriliana juga turut disidangkan dalam berkas terpisah.

Susanti didakwa tiga pasal yakni, Pasal 82 ayat 1 Undang-undang Perlindungan Anak, Pasal 2 ayat 1 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (Traficking) dan Pasal 38 Undang-undang ITE‎.

Adapun Herni dan Sri Mulyati yang berperan sebagai penghubung dan perekrut, didakwa Pasal 82 ayat 1 Undang-undang Perlindungan Anak, Pasal 2 ayat 1 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Pasal 29 Undang-undang Pornografi.

Sementara itu, Apriliana yang berperan sebagai pemeran perempuan yang beradegan Mesum, didakwa Pasal 82 Undang-undang Perlindungan Anak, Pasal 2 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Pasal 38 Undang-undang Pornografi.

Sedangkan Imelda Oktaviani yang juga jadi pemeran dalam video porno, dijerat Pasal 88 Undang-undang Perlindungan Anak dan Pasal 34 Undang-undang Pornografi.

Sementara itu kuasa hukum Imelda, Dadang Sukmawijaya mengaku Imelda dijerat Pasal 88 Undang-undang Perlindungan Anak dan Pasal 34 Undang-undang Pornografi.

"Khusus Imelda, kami ajukan eksepsi dan keberatan atas dakwaan jaksa penuntut umum (JPU)," katanya.

Dadang mengaku, karena Imelda merupakan korban eksploitasi orang dewasa. Selain itu dia juga tidak memproduksi, apalagi menyebarkan video mesum itu. Makanya, Imelda ini seharusnya diposisikan sebagai korban bukan pelaku.

"Justru pelaku utama (Faisal) yang harus dihukum seberat-beratnya," ujarnya.

Kasus tersebut berawal dari pertemanan Faisal dengan komunitas Rusia di Facebook bernama VIKA. Berawal dari mengirimkan foto porno berupa editan antara seorang anak dan perempuan dewasa pada akhir bulan April, Faisal pun mendapatkan pujian dari komunitas tersebut.

Setelah mengirimkan foto dan mendapat komentar positif, terdakwa Faisal mendapat tawaran dari R yang mengaku orang Kanada untuk membuat video mesum dengan imbalan bayaran uang.

‎Faisal pun menyanggupi tawaran tersebut dan kemudian meminta bantuan untuk mencarikan anak laki-laki kepada Cici dan Ismi.

Mereka kemudian membuat video tersebut di bulan Mei dan Agustus 2017 lalu di dua hotel di Kota Bandung. Setelah video itu jadi, tersangka Faisal mengirimkan video itu kepada R (orang Kanada) melalui media sosial telegram. Dia dibayar pertama Rp 6 juta, Rp 8 juta, dan 16 juta. Jadi total semuanya Rp 31 juta.

Baca Lainnya