Selasa, 25 Februari 2020 14:34

5 Tahun jadi Praktik, Dukun yang Cabuli Anak Tirinya Sudah Layani 200 Pasien

barang barang pelaku yang dipakai untuk ritual
barang barang pelaku yang dipakai untuk ritual [Fery Bangkit]

Limawaktu.id - Y Supriadi alias Eyang Anom (50) mengaku sudah sekitar lima tahun menjalankan praktiknya sebagai dukun di kediamannya di Kampung Babakan Tegalaja, RT 04/05, Desa Sukatani, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Namun, disela-sela menjalankan praktiknya, pria paruh baya yang memiliki nama lain M Yusuf itu diam-diam telah mencabuli hingga melakukan persetubuhan terhadap dua anak tirinya berinisial MR (20) dan TP (19).

Kelakukan bejat dukun cabul selama belasan tahun itu baru benar-benar terbongkar pada Kamis (21/2/2020). Tersangka saat ini sudah mendekam di Mapolres Cimahi, Jalan Jenderal Amir Machmud, Kota Cimahi.

"Seinget saya sudah 5 tahunan jadi dukun. Dari tahun 2015," ujar tersangka Eyang Anom saat gelar perkara di Mapolres Cimahi, Selasa (25/2/2020).

Berdasarkan hasil pemantauan sebelumnya di ruang praktik dukun cabul itu, terdapat sejumlah barang-barang yang identik dengan dukun. Seperti kendi, kain kafan, keris, dupa hingga kemenyan.

"Iya memang ada kaya sesajen," ucap Eyang Anom.

Tersangka mengakui pasien yang datang ke tempat praktiknya rata-rata dengan maksud berkonsultasi soal pernikahan, pengobatan hingga penglaris. Namun, ia menampik pasien yang datang kepadanya menjadi korban pencabulan juga.

"Kadang saya dibayar Rp 30 ribu, kadang juga enggak dibayar. Kalau pasien enggak ada yang jadi korban," sebutnya.

Kapolres Cimahi, AKBP M Yoris Maulana Yusuf Marzuki mengungkapkan, berdasarkan hasil pemeriksaan, selama lima tahun menjalankan praktik dukunnya, sudah ada sekitar 200 pasien yang memanfaatkan jasa Eyang Anom.

"Pasien yang datang kurang lebih 200 orang. Pasien pertamanya itu ada keluhan guna-guna karena usahanya bangkrut," ungkap Yoris.

Namun sejauh ini, kata dia, korban pencabulan hingga persetubuhan yang dilakukan Eyang Anom baru dua, yang tak lain adalah anak tiri tersangka. Pihaknya akan melakukan pengembangan dikhawatirkan ada korban lain selain kedua anak tirinya.

"Dikhawatirkan ada korban lain. Kita lakukan pengembangan," tandasnya.

Tersangka saat ini dikenakan Pasal 81 dan 82 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman 15 tahun dan ditambah diperberat 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana tersebut. 

Baca Lainnya