Rabu, 4 Oktober 2017 17:32

Sempat Bangkrut, Riani Bangkit untuk Meraih Sukses

Reporter : Jumadi Kusuma
Pemilik KAPAKE by Iyang, Riani berfoto didepan produk fesyennya.
Pemilik KAPAKE by Iyang, Riani berfoto didepan produk fesyennya. [limawaktu]

Limawaktu.id,- Meski tidak pernah belajar fesyen secara formal, namun bagi Riani,  ibu rumah tangga yang kreatif ini tak menjadi halangan. Berbekal tekad dan keinginannya untuk maju, Riani mampu bangkit dari kegagalan dan  menunjukan karyanya dan diakui oleh masyarakat dan pemerintah.

Buktinya di even Jabar Ngagaya 2017 yang di gelar Pemprov Jabar pada 29 dan 30 September, KAPAKE by Iyang, mampu menunjukan kualitasnya dengan menyabet gelar juara pertama Fashion Etnik Bergaya.

Riani,  ibu rumah tangga yang kreatif ini mengaku belajar mendesain fesyen secara otodidak. Berawal dari hobby Riani mencoba memulai usahanya secara mandiri. Mulai   melakukan proses produksi, marketing sendiri secara konvensional.

Buah ketekunannya membuat Riani mulai bangkit dengan usahanya ini. Kendati baru berjalan satu tahun namun  telah memiliki tiga reseler dan toko dibeberapa tempat diantaranya Ciburuy Padalarang, Pasar Baru Bandung  dan berencana membuka toko di Sarijadi, Kota Bandung.

Saat dikunjungi limawaktu.id di Jalan Raya Ciburuy 247 Padalarang Kabupaten Bandung Barat , Industri Kecil dan Menengah  binaan Dinas Perindustrian dan Perdangan (Disperindag) Pemerintah Kabupaten Bandung Barat ini mengaku baru setahun lalu merintis usaha fesyennya.

“KAPAKE by Iyang ini lahir pada 12 Februari 2016 lalu,  merupakan label lokal yang kami ciptakan,” terang Riani, di tokonya Rabu (4/10).

Produk fasyennya dijual seharga lima puluh ribu hingga empat ratus ribu rupiah untuk konsumen umum sedangkan pesanan khusus untuk butik berkisar empat ratus ribuan sampai jutaan rupiah per potong. Omzet nya untuk saat ini baru rata-rata sepuluh juta perbulan, dan jika lagi rame sampai tiga puluh juta perbulan.

Riani bukan pengusaha baru dibidang fesyen , sebelumnya pernah sukses produksi kebaya dengan jangkauan pasar Tanah Abang Jakarta bahkan ekspor hingga Malaysia dan Brunai. Tidak kurang dari empat puluh orang karyawan bekerja padanya dengan produksi tidak kurang dari dua ribu potong perbulan. Sayangnya kesalahan manajemen keuangan membuat usahnya bangkrut.

"Saya berterimakasih kepada Pemkab KBB terutama Disperindag yang telah membina IKM melalui berbagai program pelatihan diantaranya yang pernah saya ikuti adalah pelatihan go online dan garment ekspor" sebut Riani.

Berkat bimbingan Disperindag KBB, akhirnya Riani makin optimistis untuk terus meningkatkan produksinya. “ Harapannya Disperindag terus melakukan pembinaan dan bantuan kepada IKM terutama bidang fesyen,” pungkas Riani mengakhiri obrolan. (jk)*