Rabu, 17 Januari 2018 19:26

Respon Pegadang Ayam di Cimahi Usai Terima Surat Edaran Mogok Jualan

Reporter : Fery Bangkit 
Seorang pedagang  belum bisa memastikan akan ikut aksi atau tidak. Pasalnya, aktifitas berjulanannya tergantung suplai dari tingkat peternak.
Seorang pedagang belum bisa memastikan akan ikut aksi atau tidak. Pasalnya, aktifitas berjulanannya tergantung suplai dari tingkat peternak. [Limawaktu]

Limawaktu.id - Rencana aksi mogok para pedagang ayam di Bandung Raya  mendapat respon dari para pedagang di sejumlah pasar tradisional di Kota Cimahi.

Rencana mogok berjualan tersebut tertera dalam surat edaran dari Pengurus Persatuan Pasar dan Warung Tradisional (PESAT) Jawa Barat. Rencananya, aksi mogok berjualan akan dimulai dari Jum,at hingga Minggu akhir pekan.

Rencana aksi mogok dagang dipicu kurangnya pemerintah pusat dalam mengendalikan harga daging ayam. Akibatnya, harga di tingkat pedagang mencapai Rp38.000-40.000/kilogram. Sementara ditingkat perusahaan peternak, harga mencapai Rp23.000/kilogram.

Neni Rukmini (42), salah satu pedagang ayam di Pasar Atas Cimahi mengungkapkan, sebetulnya aksi mogok berdagang sendiri malah akan merugikan bagi dirinya. Pasalnya, dengan berhenti berjualan, maka tidak ada pemasukan yang ia terima.

“Saya baru baca, dimulai Hari Ju'mat sampai Minggu mogoknya. Bagi Ibu selaku pedagang kerugian karena kita penghasilannya per hari,” kata Neni saat ditemui di Pasar Atas Cimahi, Rabu (17/1/2018).

Ia belum bisa memastikan akan ikut aksi atau tidak. Pasalnya, aktifitas berjulanannya tergantung suplai dari tingkat peternak.

“Ada barang tetap jualan. Kalau suplai gak ada, kemungkinan gak dagang,” ujar Neni.

Diakuinya, jika ada aksi mogok, biasanya harga jual daging ayam melejit hingga Rp 45.000/kilogram. Apalagi, akhir-akhir ini suplai ayam dari tingkat peternak berkurang.

“Ayamnya agak susah. Kemarin juga telat. Di PT (perusahaan peternak) ngantri, jadi datangnya agak siang,” ujarnya.

Jika harga sedang normal, lanjut Neni, dalam sehari suplai daging ayam yang diterimanya mencapai 1,5 kwintal. Namun, disaat harga dan pasokan yang tak menentu, kuota daging ayam yang diterimanya hanya 1 kwintal per hari.

“Kalau harga dari supliernya itu Rp27.300 per kilogram, sementara harga jual liat situasi juga. Supliernya dari Tasik dan Sumedang,” ungkapnya.

Nunung Nursahada (47), pedagang ayam lainnya mengatakan, ia akan tetap berjualan meski penghasilannya dipastikan menurun.

“Kalau harga normal biasanya bisa jual hingga 150 ekor, sekarang setengahnya pun nggak,” ucapnya.