Jumat, 22 Desember 2017 10:37

Potret Hari Ibu di Cimahi : Demi Cucu, Nenek Renta Usia ini Keliling Jualan Awug

Nenek Ati Sedang Berjualan Awug.
Nenek Ati Sedang Berjualan Awug. [Limawaktu]

'Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah'

Limawaktu.id - Penggalan lirik lagu yang dipopulerkan Iwan Fals di atas tepat untuk menggambarkan sosok Nenek Ati.

Demi menyambung hidup dan membiayai dua cucunya, seorang perempuan Renta asal Kampung Sukajaya, RT 5/4, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Jawa Barat ini harus mengais rezeki dengan menjual Awug berkeliling di sekitar Cimahi Utara.

Usianya sudah menginjak 91 tahun. Usia renta yang semestinya menikmatinya, dengan kasih sayang dari anaknya. Layaknya kebanyakan ibu-ibu lain, yang kerap mendapat perlakuan istimewa. Khususnya di Hari Ibu, yang jatuh tepat hari ini, 22 Desember 2017.

Anak kandung atau ibu dari kedua cucunya yang berusia enam dan delapan tahun kini sudah meninggal dunia. Sementara ayah kedua cucunya kabur untuk menikah lagi dengan wanita lain.

"Semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi, jadi nenek yang harus mengurus dan membiayai," ujar Nenek Ati saat ditemui belum lama ini di Jalan Sukajaya, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi.

Baju kebaya dan sarung sampit yang kerap ia kenakan menjadi saksi perjalanan pahitnya selama ia berjualan awug.

Sambil merapihkan dagangannya yang disimpan di dalam wadah berbahan bambu, ia terusmenawarkan awugnya kepada anak anak-anak di sekitar tempat pendidikan kanak-kanak (TK) di Jalan Sukajaya.

Untuk menjual awugnya itu, ia tidak mematok harga, berapapun orang yang akan membeli awugnya pasti dilayani.

Rata-rata awug Nenek Ati dijual Rp2.000, bahkan ada yang hanya membelinya Rp1.000. Setiap harinya, ia mendapat Rp30.000 dari berjualan awug.

Demi menghidupi kedua cucunya, ia tetap mengumbar senyum semangat. Baginya, meski harus berjalan menawarkan awugnya, tak masalah asalkan ia dan kedua cucunya bisa menyambung hidup.

"Kalau tidak jualan, kedua Cucu nenek mau makan apa ? Karena sudah tidak ada lagi yang membiayainya," ujar Nenek Ati.

Nenek Ati menjadi salah satu potret permasalahan ekonomi di Kota Cimahi. Hingga tahun 2016, perempuan rawan sosial ekonomi di Kota Cimahi mencapai 2002.

Baca Lainnya