Selasa, 17 April 2018 13:29

Ketika HET Beras Diabaikan Pedagang

Penulis : Fery Bangkit 
Beras di salah satu pedagang Pasar Atas Cimahi.
Beras di salah satu pedagang Pasar Atas Cimahi. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Harga-harga sejumlah komoditas pangan, termasuk beras di pasar tradisional di Kota Cimahi belum bisa dikendalikan.

Sebab, harga beras kualitas medium di pasar trasidional di Cimahi berada di kisaran Rp10-11 ribu/kg. Padahal Kementrian Perdagangan menetapkan Harga Eceran Tertinggi (het) tidak boleh melebihi Rp9.450/kg.

Kepala Seksi Perdagangan, Dinas Perdagangan Koperasi UKM dan Perindustrian Kota Cimahi, Agus Irwan menyatakan, sejak dikeluarkannya Permendag Nomor 57 tahun 2017 tentang HET Beras, pihaknya langsung mensosialisasikannya kepada pedagang pasar tradisional dan toko modern.

"Sudah ada pedagang yang mengikuti aturan tersebut, tapi untuk pedagang yang belum mematuhi aturan, kami tidak memberinya sanksi, hanya diingatkan secara lisan saja, karena dalam aturannya juga tidak diterangkan sanksinya apa," katanya, Selasa (17/4/2018).

Pada awal April ini, rata-rata harga beras jenis medium di tingkat pedagang juga dijual di atas Rp 10 ribu/kilogram. Nanang (60) seorang pedagang beras di Pasar Atas Cimahi mengaku belum bisa mengikuti HET beras yang dikeluarkan pemerintah.

"Sekarang, saya masih menjual beras jenis medium antara Rp 10-11 ribu karena harga yang dijual di pasar masih tergantung harga dari tingkat petani. Saat ini, harga beras dari petani masih tinggi," ucapnya.

Nanang mengatakan, jika harga di tingkat petani sudah turun, pedagang juga bisa menuruti HET. Selain beras, harga minyak goreng juga masih melebihi HET yang ditetapkan pemerintah. Dalam ketentuan, pemerintah menetapkan HET minyak goreng ukuran satu liter ialah Rp 10-11 ribu sedangkan minyak 1,5 liter maksimal Rp ribu.

"Saya masih menjual minyak goreng ukuran 1,5 liter seharga Rp 7 ribu, sedangkan yang satu liter Rp 12-14 ribu," terang Iis (50) pedagang sembako di Pasar Atas Cimahi.

Baca Lainnya