Selasa, 27 Februari 2018 15:49

Kain Balotelli Disertakan dalam Launcing Distribusi IKM di Bandung Barat

Reporter : Fery Bangkit 
Kain Balotelli yang tengah naik daun untuk pembuatan busana muslim.
Kain Balotelli yang tengah naik daun untuk pembuatan busana muslim. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kantor Wilayah Jawa Barat meresmikan distribusi bahan baku import tekstil bagi Industri Kecil Menengah (IKM) melalui Pusat Logistik Berikat (PLB) di Batujajar, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (27/2/2018).

Secara simbolis bahan baku import kain jenis Balotelli, Wollfis, Bubble Pop dan Jersy senilai Rp 4.461.000.000 bagi pelaku usaha garmen. Balotelli sendiri merupakan produk kain yang tengah naik daun untuk membuat pakaian muslim.

Kepala Kantor Wilayah DJCB Jawa Barat, Saipullah Nasution menerangkan, penyaluran bahan baku impor bagi IKM melalui PLB ini untuk memangkas biaya produksi dan memudahkan ketersediaan bahan baku pasca penertiban impor nakal pemerintah pusat.

"Biasanya IKM ini mendapat bahan baku dari importir borongan, setelah ditertibkan mereka kesulitan mendapat bahan baku. Dengan PLB ini kita berharap kebutuhan bahan baku khususnya bidang konveksi terus terjaga," ungkapnya di PLB Agility Internasional Giriasih Batujajar, Selasa (27/2/2018).

Dia menerangkan, di Jawa Barat terdapat 7.428 pelaku IKM sandang dan 2.918 IKM bidang sandang, saat ini 150 IKM di Kabupaten Bandung melalui APIKMI (Asosiasi pengusaha industri kecil menengah indonesia) dapat langsung membeli bahan baku melalui PLB.

"Targetnya akhir 2018 ini, 80 persen dari total 2.918 IKM wilayah Bandung bergabung dalam skema pemenuhan kebutuhan bahan baku seperti ini,"jelasnya.

Ditempat sama, H. Didin Saepudin (48) pelaku IKM busana muslim asal kabupaten bandung mengaku sangat terbantu dengan adanya PLB, sebelumnya jika di toko biasa jenis kain Balotelli stoknya terbatas dan mahal.

"Saya punya 20 orang pegawai produksi gamis, setelah ada PLB stok lancar dan harga stabil. Kalau di toko kadang warna yang dibutuhkan tidak ada,"paparnya.

Pelaku IKM lain, Guntur (34) mengaku sangat bersyukur dengan adanya PLB, dengan begitu proses percepatan dan pertumbuhan produksi gamis mulai lancar, orderan juga semakin banyak.

"Harga jadi lebih murah dan memangkas biaya produksi, letal APIKMI juga tidak terlalu jauh jadi biaya transportasi juga murah,"katanya.