Selasa, 10 Agustus 2021 17:35

Hasil Panen Petani di Cimahi Merosot

Reporter : Bubun Munawar
Adi, salah seorang petani penggarap di Kelurahan Cipageran  mengaku terjadi penurunan hasil panen karena beberapa faktor
Adi, salah seorang petani penggarap di Kelurahan Cipageran mengaku terjadi penurunan hasil panen karena beberapa faktor [Limawaktu.id]

Limawaktu.id, Sejak Pandemi Covid-19 terjadi dampak yang mengakibatkan penurunan ekonomi masyarakat. Buntutnya, penghasilan mereka pun terjadi penurunan, seperti dialami petani penggarap sawah di Kota Cimahi,

Menurut Adi, salah seorang petani penggarap asal Anggaraja Kelurahan Cipageran Kecamatan Cimahi Utara, tahun ini hasil panennya mengalami penurunan, karena berbagai faktor. Bahkan dari lahan yang diagarap awalnya bisa menghasilkan padi sekitar 2 ton,  saat ini terjadi penurunan hanya 1,5 ton saja.

“Tahun ini hasil panen mengalami penurunan akibat cuaca, hama dan harga pupuk,” terangnya, Selasa (10/8/2021).

Dikatakannya, harga pupuk pun tidak sebanding dengan hasil panen yang didapat karena terjadi kenaikan harga. Selain soal harga pupuk, penurunan hasil panen juga dipengaruhi oleh hama terutama tikus atau keong.

“Penurunan hasil panen juga karena cuaca yang kurang mendukung akhir-akhir ini,” jelasnya.

Dikatakanya, dengan kondisi tersebut, dia berusaha untuk mendapatkan subisidi pupk dari pemerintah agar bisa mengurangi biaya produksi, dengan cara memasuki kelompok tani. Dengan menjadi kelompok tani, akhirnya dia mendapatkan subsidi harga pupuk dari pemerintah.

“Alhamdulillah dengan ikut keolompok tani saya mendapatkan subsidi pupuk,” katanya.

Sebelumnya,  Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kota Cimahi Supendi Heryadi menyebutkan, Kota Cimahi hanya memiliki luas lahan pertanian hanya 300 hektar saja. Kondisi tersebut mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

“Kita tak bisa mempertahankan lahan pertanian  karena lahan pertanian yang ada adalah milik masyarakat, dengan kebutuhan pemilik lahan dan tuntutan ekonomi, terkjadi pengurangan lahan pertanian di Kota Cimahi, “ sebutnya.

Menurut dia, awalnya warga yang memiliki lahan sawah atau kebun ketika sudah memiliki keluarga dipastikan akan merubah fungsi lahannya menjadi tempat pemukiman bagi keluarganya. Selain itu, karena tuntutan ekonomi maka ketika ada yang membutuhkan lahan untuk perumahan, pemilik lahan menjual lahan miliknya.

“Ketika ada kebutuhan perumahan, maka kita juga tidak bisa menahan pemilik sawah atau kebun untuk menjual lahannya, apalagi jika pembangunan perumahan tersebut tidak melanggar aturan,” jelasnya.

Dikatakan Supendi, untuk memperthankan lahan pertanian terutama sawah, pihaknya akan mengajukan pembelian lahan yang dibiayai oleh APBD Kota Cimahi. Minimal luas lahan sawah yang harus dipertahankan adalah 15 hektar.

 

Baca Lainnya

Topik Populer