Jumat, 2 Februari 2018 19:17

Harga Beras Tinggi, Pemkab Bandung Barat Rencanakan Gerakan OVOP

Reporter : Fery Bangkit 
Adiyoto, Kepala Bappeda Kabupaten Bandung Barat.
Adiyoto, Kepala Bappeda Kabupaten Bandung Barat. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Untuk mengatasi tingginya harga beras, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) berencana mengaplikasikan gerakan satu desa satu produk atau One Village One Product (OVOP).

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) KBB Adiyoto mengatakan, pihaknya sudah mensosialisasikan program tersebut. Tujuannya, agar warga KBB tidak terlalu bergantung pada beras.

Baca Juga : Harga Beras Sentuh Rp 13 Ribu/kg, Pemkot Cimahi Kewalahan

"Misalnya di wilayah selatan, ada potensi umbi-umbian, kita kembangkan. Karena dari sisi gizi dan kalori tidak kalah sama beras, bahkan dari beberapa umbi-umbian jauh lebih baik dari pada beras," ujarnya, Jum'at (2/2/2018).

Dia mengakui, untuk merealisasikan OVOP memang sulit. Pasalnya, merubah pola makan dari beras ke bahan pokok lain butuh waktu dan sosialisasi. Berkaitan dengan tingginya beras saat ini, kata dia, hal itu bisa saja akibat pemerintah terdahulu yang salah membuat kebijakan.

Baca Juga : Harga Beras Meroket, Pemprov Jabar Gelar Bazar Beras Murah di Cimahi

"Kenapa harus memaksakan orang di daerah timur Indonesia beralih dari sagu ke nasi pada jaman Pak Harto, engga perlu, biarkan saja, sekarang tanaman sagu sudah susah di Ambon dan Papua. Berarti ini salah siapa, salah kebijakan. Lahan-lahan diganti sawah, sekarang jangan lagi seperti itu," tuturnya.

Dari laporan Kementrian Pertanian, lanjut dia, saat ini Indonesia sedang surplus beras. Namun di lapangan ternyata harga beras naik, ini berarti ada ketidakberesan yang mungkin terjadi di tingkat distribusi, atau ada pihak yang sengaja menimbun beras agar mendapat keuntungan pribadi.

Oleh karena itu, sebagai daerah produsen sektor tanaman pangan, hortikultura, palawija dan peternakan, Pemkab Bandung Barat dianggap belum terlambat dalam menerapkan One Village One Product ini.

"Pemahaman ini bukan berarti meninggalkan yang lain, tapi di situ ada pengembangan potensi andalan utama suatu daerah. Misalnya di Suntenjaya Lembang yang dikenal penghasil hortikultura, jangan dirusak, tapi kembangkan terus hortikulturanya. Di selatan juga begitu," pungkasnya.

Baca Lainnya

Topik Populer

Berita Populer