Sabtu, 7 Oktober 2017 4:20

Gara-Gara Suka Begadang, Mantan Tukang Ojeg Jadi Pengrajin Bambu

Ekonomi IKM Bandung Barat
Dian Setiawan memperlihatkan salah satu karya Bambooart Indonesia.
Dian Setiawan memperlihatkan salah satu karya Bambooart Indonesia. [(foto: Jumadi Kusuma/limawaktu)]

Limawaktu.id, - Seperti kata Bang Haji Rhoma Irama, “Begadang boleh saja, asal ada perlunya”. 

Ya, tak selamanya begadang itu dilarang dan merugikan. Begadang justru bisa menguntungkan. Seperti yang dilakoni Dian Setiawan, pengrajin bambu dengan label Bambooart Indonesia. Karena berawal dari sering begadang, ia mendapatkan inspirasi untuk memulai usahanya sebagai pengrajin bambu. 

“Sebelum jadi pengrajin bambu, dulu saya adalah tukang ojeg, yang suka begadang dan membuat api unggun dari sisa-sisa bambu bekas saung jamur para petani,” ungkap Dian, menceritakan latarbelakangnya sebagai pengrajin bambu, saat mengawali perbincangan dengan Limawaktu.id, di kediamannya, RT 1 RW 12 Desa Kertawangi, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB). 

Dian menceritakan, suatu ketika ia iseng-iseng membuat miniatur kapal pinisi dari sisa bambu, dan ternyata direspon positif oleh sang istri. “Istri saya bilang bagus. Pujian dari istri memotivasi saya untuk membuat kerajinan dari bambu yang banyak digunakan sehari-hari. Bermodalkan uang sebesar tiga ratus ribu rupiah saya mulai membuat cangkir dari bambu,” tutur Dian 

Usahanya itu dimulai pada 24 Juni 2011 dan pada tahun 2013 menjadi binaan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Kab. Bandung Barat, yang membimbingnya melalui pelatihan manajerial, pemasaran dan mengikutsertakan dalam berbagai even atau pameran, baik di seputar Bandung, Garut maupun Jakarta. 

"Saya masih ingat, order pertama pada tahun 2013, ketika itu ada pesanan membuat leumang (alas makan dari bambu, red.), dari tempat wisata. Saat itu tempat kerja saya masih di halaman rumah dan seringkali terganggu tetangga yang hilir mudik," kenangnya. Kini, ia bahkan sudah bisa menyewa lahan dibelakang rumahnya yang lebih luas. 

Bambooart Indonesia telah memiliki reseler di Kota Bandung, Bekasi, Cirebon, Jakarta, Surabaya, Palembang dan Papua. Saat ini, omzet-nya rata-rata sepuluh juta rupiah per bulan. Jangkauan pemasarannya selain dalam negeri juga ke manca negara, diantaranya Thailand, Chili dan Jerman, walaupun masih paket kecil pesanan pribadi bukan perusahaan. 

Bahan baku produk dari jenis bambu gombong, pringgandani dan bambu tali yang didatangkan dari Jampang Sukabumi yang kualitasnya cocok untuk kerajinan bambu, karena kadar airnya sedikit dan tebal. Dari bahan tersebut diproduksi berbagai jenis kerajinan bambu, diantaranya miniatur, prototype, alat rumah tangga, property, fesyen yang bentuknya dirancang sendiri atau sesuai pesanan konsumen. 

Produknya dijamin awet, aman, anti rayap dan jamur, serta ramah lingkungan, karena telah menggunakan biovarnish, yang telah memiliki lisensi dari Vietnam. Produk Bambuart Indonesia harganya vareatif, mulai dari lima ribu rupiah hingga satu jutaan. Selain itu,  produknya juga telah mendapat penghargaan dengan kategori Produk Terkreatif, pada even “Koperasi Fair 2014” tingkat Provinsi Jawa Barat.

"Harapan saya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) KBB terus membina dengan pelatihan-pelatihan dan mengikutsertakan dalam berbagai even dan pameran, serta memfasilitasi pengurusan Hak Atas Kepemilikan Intelektual (HAKI) dari produk saya, untuk mengantisipasi terjadinya peniruan. Pengurusan HAKI tersebut sudah dilakukan melalui Dinas Koperasi Provinsi Jawa Barat pada tahun 2016 lalu, namun sampai saat ini masih dalam proses," terangnya. (jk)*

Arief Budiman Dwi Cahyadi
Arief Budiman Dwi Cahyadi

sukses kang

9 Oktober 2017 11:12 Balas

Fajar Milan Yudistira
Fajar Milan Yudistira

Sukses terus Kang Dian...Amin

8 Oktober 2017 12:32 Balas