Senin, 17 Juni 2019 14:54

Alhamdulillah! Nilai Investasi di Kota Cimahi Naik, ini Jumlahnya!

Reporter : Fery Bangkit 
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Cimahi, Hella Haerani
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Cimahi, Hella Haerani [ferybangkit]

Limawaktu.id - Pemerintah Kota Cimahi mengklaim, realisasi nilai investasi yang masuk sepanjang 2018 mencapai Rp 11,590 triliun lebih.

Capaian realisasi investasi yang berasal dari Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) atau LKPM tahap produksi mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2017 yang hanya Rp 8,9 triliun.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Cimahi, Hella Haerani mengatakan, capaian nilai investasi itu didapat dari pelaporan 49 perusahaan pada semester 1 yang mencapai Rp 7,135 triliun dan 37 perusahaan pada semester 2 yang mencapai Rp 4,454 triliun.

"Alhamdulillah ada peningkatan. Kita ada pelaporan 3 (tiga) bulan sekali. Nanti dilaporkan ke BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal), nanti dari BKPM ada rilis ke kami (DPMPTSP)," kata Hella, yang didampingi Kepala Seksi Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal, Irma Kumalasari, Senin (17/6/2019).

Melonjaknya realisasi investasi di Kota Cimahi tidak terlepas dari upaya pengawasan dan pengendalian DPMPTSP baik melalui rapat koordinasi, sosialisasi serta kunjungan ke perusahaan-perusahaan. Mengenai perusahaan yang menanamkan modalnya di Cimahi, dia menyebutkan, mayoritas industri dan perdagangan.

"Kita selalu melakukan pengendalian, pengawasan, dan pembinaan. Walau kecil harus dilaporkan," tegas Hella.

Hella menjelaskan, selama ini investasi di Cimahi berbasis potensi lokal yang terdiri dari empat klaster. Di antaranya klaster makanan dan minuman, klaster industri tekstil dan produk tekstil, klaster kerajinan (craft) serta klaster telematika.

Diakui Hella, pihaknya kerap menemui kendala dalam pengelolaan investasi di Kota Cimahi. Diantaranya masih ada perusahaan yang kurang kooperatif dalam melaporkan nilai investasinya.

"Tapi bukan berarti bandel, tapi karena ketidaktahuan bagaimana cara melaporkan. Kita terus sosialisasi, memanggil perusahaan. Didampingi bagaimana cara membuat laporan," pungkasnya. 

Baca Lainnya

Topik Populer

Berita Populer