Senin, 24 Juni 2019 15:58

Kekeringan, Panen Padi di Cipageran Beda dengan Wilayah Lain

Para Petani Terpaksa Memanen Padinya Lebih Awal. [ferybangkit]

Limawaktu.id - Dinas Pangan dan Pertanian Kota Cimahi mengungkapkan, wilayah pertanian di Kampung Pasir Kiara, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi utara memang menjadi langganan kekeringan setiap tahunnya.

Seperti diketahui, sejak kemarau datang, lahan pertanian sawah yang berada di RW 16 Kelurahan sama sekali tidak ada aliran air dari irigasi Sungai Cijanggel, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Akibatnya, para petani pun terpaksa panen lebih awal di 10 hektare sawah. Sedangkan pada di 5 hektare sisanya terancam mengalami gagal panen jika tidak segera dialiri air.

"Memang di sana setiap tahun selalu begitu. Karena memang saluran irigasinya dari Cijanggel setelah kita cek gak ada airnya," jelas Mita Mustikasari, Kepala Bidang Pertanian pada Dinas Pangan dan Pertanian Kota Cimahi saat ditemui di Pemkot Cimahi, Jalan Rd. Hardjakusumah, Senin (24/6/2019).

Parit yang biasa mengaliri sawah kini kering.

Sebab selalu jadi langganan kekeringan, ungkap Mita, masa panen padi di Kampung Pasir Kiara pun berbeda dengan wilayah lainnya. "Kalau yang lain tiga kali, kalau di Pasir Kiara indeks tanamnya hanya dua kali," ujar Mita.

Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Cimahi Utara, Rani Kurniati menambahkan, berdasarkan hasil pengecekan ke sumber air, Sungai Cijanggel memang sudah semakin surut karena musim kemarau panjang.

"Selain dari Sungai Cijanggel-nya surut, di aliran yang menuju ke sini, di Cisarua (KBB) juga ada sedimentasi. Sudah sering kita keruk," jelasnya.

Jika kondisi kemarau semakin panjang, lanjut Rani, petani pun kemungkinan bisa terancam gagal panen atau memilih panen lebih awal (puso). "Ini kan lahan digarap 23 petani, totalnya ada 15 hektare, yang lagi dipanen sekarang 10 hektare. Sisanya itu dikhawatirkan gagal panen," pungkasnya.

Berita Terkait