Senin, 5 Maret 2018 17:50

Wayang dan Islam, Media Dakwah Para Wali

Ilustrasi Wayang.
Ilustrasi Wayang. [Pixabay]

Penulis: Ashoff Murtadha, Direktur Studi Islam Bandung

Wayang meneladankan akhlak dengan kisah. Al-Quran juga banyak berkisah dalam menyampaikan ajaran-Nya. Bedanya, kisah Al-Quran adalah sejarah faktual masa lalu. Sedangkan wayang adalah fiksi, namun berdasarkan karakter-karakter dan perilaku yang faktual dalam kehidupan manusia.

Bahkan sebagian dari kisah-kisah epos masa lalu yang populer, terinspirasi oleh kisah-kisah al-Quran. Seperti Rahwana, menurut sebagian orang, adalah penggambaran Firaun. Sri Rama dan Laksmana adalah penggambaran Musa dan Harun.

Selain itu, sebagian dari kisah wayang adalah juga terambil dari berbagai karakter orang-orang yang hidup pada masa Nabi Saw.

Wayang juga mengajarkan ilmu dan akhlak melalui kisah. Seperti kisah Dewa Ruci yang mengajarkan makrifatullah, mencari Tuhan dengan ketulusan dan keteguhan.

Pandawa mengapa berjumlah lima? Ini bagian dari komunikasi pengajaran tentang Rukun Islam atau Furu’ Islam yg lima. Juga salat fardu yang lima.

Mengapa Kurawa berjumlah seratus, sekalipun semuanya lahir dari rahim seorang ibu? Karena orang jahat itu banyak. Angka 100 hanyalah simplifikasi dari jumlah yang banyak. Dan kendatipun banyak, kebatilan bisa dikalahkan oleh kebenaran yang berjumlah sedikit, asal kuat, “sakti” dan mumpuni. Ini pesan ajaran yang ingin disampaikan kepada khalayak audiens.

Maka, bukalah banyak pintu kebaikan, dan jangan tutup sebagiannya. Yang telah terbuka, fasilitasi terus agar tetap terbuka, dan jangan kau tutup. Yang masih tertutup, upayakan agar terbuka.

Karena Al-Quran dalam surah Yusuf memerintahkan, “Masukilah kota dari berbagai pintu yang berbeda-beda.”

Jadi, wayang itu media. Media untuk menyampaikan pesan, ajaran, kebajikan, keteladanan dan kebijaksanaan. Sama dengan berbagai media lain yang lahir belakangan pada zaman lalu, zaman ini atau kelak di kemudian hari.

Para wali dulu telah meneladankan pendekatan budaya dalam berdakwah, menyampaikan kebenaran bil hikmah. Melalui wayang, mereka menyampaikan kebenaran dan kebajikan dengan cara kebudayaan. Dalam metodologi pendidikan, “metode lebih penting daripada konten.” Selain itu, jika budaya tanpa agama akan nyasar, maka agama tanpa budaya akan kasar.

Maka, jelas penting memperhatikan media, cara dan metode. Sebab, media dan metode mampu menyampaikan pesan lebih komunikatif, efektif dan berpengaruh.

“Carilah media (wasilah) untuk menuju-Nya, wabtaghuu ilayhi al-wasilah.” Dan perbanyaklah media untuk mengajak manusia - yang beragam itu - kepada kebaikan dan kebenaran.

Wayang salah satunya.