Senin, 19 Maret 2018 18:46

Manusia Mahluk Misterius

Ilustrasi.
Ilustrasi. [Net]

Penulis: Ardi Yazdy, Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bandung

Manusia adalah maujud multidimensional. Karena multidimensional, banyak pakar meneliti dan berpendapat bahwa hal paling rumit sekaligus unik di bumi ini adalah manusia itu sendiri. Dalam bukunya yang monumental itu 'Man the Unknown', Dr. Alexis Carrel menjelaskan tentang kesulitan yang dihadapi untuk mengetahui hakekat manusia. Carrel mengatakan bahwa,

"Pengetahuan tentang makhluk-makhluk hidup secara umum, dan khususnya manusia belum mencapai kemajuan seperti yang telah dicapai dalam bidang ilmu pengetahuan lainnya."

Hakikat manusia belum bisa dicapai karena ia begitu kompleks sebagaimana pengenalan dan proses-proses penyempurnaannya juga sama-sama kompleks. Pada perjalanan menuju diri dan penyempurnaannya manusia sangatlah bergantung pada dimensi-dimensi yang sudah tertanam di dalam dirinya itu.

Setiap dimensi manusia memerlukan asupan tersendiri sebagaimana dimensi-dimensi tersebut juga harus mendapatkan perhatian yang proporsional. Bila salah satu dimensinya kepenuhan sementara dimensi lainnya kekurangan, maka manusia akan mengalami ketidakseimbangan, pincang dan goncangan batin.

Wajar bila kita sering mengalami goncangan batin, karena besar kemungkinan kita terlalu condong pada satu dimensi saja. Misal, pikiran hati dan fisik kita dalam sehari-hari teramat sibuk pada urusan material semata hingga kita tidak lagi punya waktu untuk merenung, membaca buku, baca al-Qur'an, evaluasi diri, melaksanakan taklif dan yang sunnah. Goncangan batin pasti terjadi bila kita hanya memerhatikan satu dimensi atau beberapa dimensi saja dari sekian banyak dimensi.

Islam hadir bagi manusia sebagai sebuah jawaban dan sistem sempurna sekaligus asupan berharga bagi setiap dimensi manusia. Islam mengetahui apa yang dibutuhkan oleh dimensi-dimensi manusia itu, bahkan Islam sendiri yang menunjukkan, menjelaskan dan memberikan solusi sekaligus asupan-asupannya.

Setiap aturan di dalam Islam mempunyai tujuan dan fungsinya masing-masing yakni, membantu sekaligus mengantarkan manusia menuju pengenalan dan penyempurnaan dirinya. Aturan-aturan di dalam Islam bersifat dinamis, harmonis dan satu kesatuan.

Karena demikian, maka dalam syariat kita tidak bisa melaksanakan yang satu sementara kita meninggalkan aturan yang lainnya. Misal, kita giat shalat dan berdoa, tetapi kita tidak bekerja, tidak melakukan silaturahmi, tidak peduli pada tetangga yang fakir, tidak pernah berinfak, juga tidak membantu orang lain. Bila kita demikian adanya, janganlah dahulu kita berharap dapat mencapai kesempurnaan insani. Kata Taqi Mishbah Yazdi,

"Seluruh aturan syariat suci Islam harus dipandang sebagai sebuah kesatuan yang saling terkait dan harmonis, dan setiap sesuatu haruslah diletakkan serta digunakan pada tempat dan posisinya."

Dari itu, kita tidak pernah heran atau bertanya-tanya bila melihat orang-orang agamis dalam satu hal tapi sembrono, congkak, keras dan pelit dalam hal lain. Jawabannya, tiada lain, karena mereka menjalankan Islam yang suci dengan cara yang setengah-setengah atau bahkan lebih sedikit lagi. Bila aturan itu sesuai dengan selera mereka, mereka akan ambil. Bila tidak, bahkan sikap mereka akan berseberangan dengan aturan Islam.

Seperti itulah watak orang-orang yang mempermainkan Islam, cenderung menimbang aturan Islam dan segala sesuatunya dengan timbangan selera dan keuntungan pribadinya semata.

Lain halnya, dengan alim ulama, tokoh akhlak, dan para peniti jalan kesempurnaan, mereka total dalam memahami dan menjalankan syariat Islam. Mereka selalu waspada dan memberi perhatian penuh terhadap aturan Islam (yang wajib maupun yang sunah) dengan cara sedemikian rupa supaya jangan sampai ada sebuah aturan agama yang terabaikan atau tidak dikerjakan sama sekali oleh mereka.

Misal, saat Allamah Thabathaba'i mengatakan kepada muridnya,

"Guru akhlak saya telah memerintahkan saya untuk mengumpulkan riwayat-riwayat berkaitan dengan sirah Rasulullah Saw dari kitab kumpulan Hadis yang bernilai tinggi (Bihar al-Anwar), dengan tujuan agar saya dapat mengambil pelajaran dari sirah pelajaran dari sirah beliau Saw bagi kehidupan saya dan agar bisa juga menjadikan rujukan bagi oranglain yang membacanya."

Perintah guru Allamah Thabathaba'i tersebut menjadi faktor penting bagi kemajuan intelektual dan spiritual Allamah Thabathaba'i hingga beliau dapat menulis kumpulan hadis dengan judul Sunan Al-Nabiy Saw. Hal itu juga telah menjadikan beliau sangat memerhatikan kewajiban dan sunnah Rasulullah Saw serta dengan penuh cinta beliau mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Diceritakan oleh Taqi Mishbah Yazdi bahwa ketika Allamah Thabathaba'i melakukan pengumpulan sirah Rasulullah Saw tersebut, beliau menemukan sebuah riwayat yang di dalamnya bercerita bahwa Rasulullah Saw pernah makan belalang laut, dan Rasulullah Saw menyukainya.

Allamah Thabathaba'i yang sejak awal bertekad menjalankan semua taklif dan sunnah Rasulullah Saw dalam hidupnya, maka dalam hal ini beliau pun berusaha mencari belalang laut. Ketika akhirnya beliau menemukan belalang laut tersebut, beliau menyantapnya dengan penuh syukur. Hal itu beliau lakukan dengan tujuan— agar paling tidak beliau pernah memakan apa yang pernah dimakan dan disukai oleh Rasulullah Saw.

Ditempat lain, saat Allamah Thabathaba'i ditanya soal penafsiran dan hukum-hukum bacaan al-Qur'an, beliau menjawab,

"Itu penting, tetapi ada yang lebih penting; yaitu menaruh hati dan cintamu pada al-Qur'an.