Kamis, 8 Maret 2018 13:12

Islam, Muslim dan MCA

Ilustrasi.
Ilustrasi. [Pixabay]


Penulis: Nurul Huda Haem, Pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia, Bekasi

Jangan kait-kaitkan Muslim dalam urusan hoaks. Jangan sebut MCA dengan kata muslim. "Supaya adil", dalih Mustofa Nahrawardaya di acara ILC TV One.

Pertanyaannya, apakah seorang muslim sudah pasti suci dan tidak berbuat kesalahan?

Ternyata masih ada saja orang yang gagal faham antara isim masdar dan isim fa'il.

Dalam bahasa Arab, istilah Islam itu isim masdar. Muslim itu isim fa'il.

Islam itu penuh kerahmatan, kedamaian dan keindahan. Sedangkan muslim belum tentu, namanya juga penganut, ada saja yang tidak bersesuaian dengan yang dianutnya, bisa karena ilmunya kurang, atau boleh jadi nafsu-nya yang kebablasan.

Muslim itu ada yang merahmati, sebagian ada juga yang suka mencaci.
Muslim itu ada yg mendamaikan, sebagian ada yang suka menghinakan. Muslim itu ada yang suka keindahan, sebagian ada yang berkubang dalan keburukan.

Ini soal pilihan. Pilih jadi muslim pengasih atau pencaci ?, atau mau disepakati saja yang suka mencaci tidak usah disebut muslim? Tapi KTP-nya kan Islam.


Islam tak pernah berubah sejak dulu, shâlihun fi kulli makânin wa zamân, Islam melanglang buana melintasi banyak benua. Di Arabia, Eropa, Afrika, Britania, Amerika, Asia sampai ke Nusantara semua dapat menerimanya dengan indah.

Tapi muslim karena merupakan subjek, ia sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya dan juga pengalaman dan kapasitas otaknya.

Prilaku sebagian muslim yang masih senang mencaci, mengadu domba dan merasa paling hebat di atas jagat.

Muslim radikal itu memang ada. Radikalisme merupakan faham yang berangkat dari sempitnya hati menerima perbedaan lalu dibiarkannya tumbuh kebencian. Dalil-dalil keagamaan kemudian dipilih sebagai pembenaran. Terma jihad misalnya, masih menjadi doktrin terpopuler untuk digoreng membenarkan kejahatan yang dilakukan.

Sebagian kita menyebut bahwa radikalisme umat Islam itu merupakan skenario global dari Amerika dan atau Israel dan atau negara-negara yang tergabung dalam sebutan "Barat".

Anggapan tersebut lebay, terlalu picik dan sangat hyperbolic. Majas hiperbola adalah pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.

Bagaimana mau menyebut ini ulah 'barat'?, faktanya konflik awal internal Islam itu benar-benar dimulai oleh kebencian dari dalam. Dalil keagamaan dicari untuk melegitimasi tindakan, pada gilirannya jahat dan jihad menjadi sangat tipis bedanya. Membunuh saudara seiman yang berbeda pendapat bisa masuk kategori jihad bukan jahat ?!.


Karenanya  saya setuju dengan Bapak Presiden Joko Widodo, "Usut tuntas Muslim Cyber Army !. Kejar, selesaikan sampai tuntas, jangan setengah-setengah, karena itu bisa menyebabkan disintegarasi bangsa."