Minggu, 10 Juli 2022 12:29

Manfaat Aplikasi Skrining Preeklampsia untuk Mengurangi AKI & AKB

Reporter : Permana
Asma Alfiah Khoerunnisa, Mahasiswi S2 Magister Kebidanan PTS di Bandung
Asma Alfiah Khoerunnisa, Mahasiswi S2 Magister Kebidanan PTS di Bandung [Istimewa]

ANGKA Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk menggambarkan kesejahteraan dan keberhasilan kesehatan dalam suatu negara. Menurut World Health Organization (WHO) wanita meninggal karena komplikasi kehamilan atau persalinan. Adapun jenis-jenis komplikasi yang menyebabkan mayoritas kasus kematian ibu adalah perdarahan, infeksi, tekanan darah tinggi saat kehamilan, komplikasi persalinan, dan aborsi yang tidak aman. Preeklampsia merupakan penyebab langsung AKI, sedangkan faktor penyebab tidak langsung diantaranya kemiskinan, jarak ke fasilitas pelayanan kesehatan, kurangnya informasi, layanan yang tidak memadai, kepercayaan, dan praktik budaya. Penyebab pasti dari penyakit ini belum diketahui, oleh karena itu preeklampsia disebut sebagai "the disease of the theories".

Faktor pendukung yang menyebabkan kerusakan endotel pada preeklampsia adalah lemahnya remodeling pembuluh plasenta, iskemik pada plasenta, stres oksidatif, perdarahan yang berlebihan, ketidakseimbangan faktor angiogenik dan hilangnya regulator pelindung endogen.
Sebagian besar kematian ibu dapat dicegah dengan manajemen tepat waktu oleh profesional kesehatan terampil yang bekerja di lingkungan yang mendukung.

Mempromosikan kesehatan di sepanjang rangkaian kehamilan, persalinan dan perawatan pasca persalinan adalah penting. Termasuk mendeteksi, mencegah penyakit dan memastikan akses kesehatan.
Salah satu peran tenaga kesehatan khususnya bidan dalam melakukan skrining preeklampsia diantaranya adalah dapat membantu meningkatkan deteksi dini faktor risiko ibu hamil dengan preeklampsia. Sehingga diperlukan adanya kemudahan dalam sebuah pemanfaatan teknologi untuk mengatasi penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) yaitu dengan adanya aplikasi skrining preeklampsia untuk tenaga kesehatan, khususnya bidan.

Sulitnya menentukan rumah sakit rujukan saat inpartu sehingga sering terjadi keterlambatan dalam penanganan dan terjadi eklampsia. Hal ini karena faktor risiko preeklampsia tidak terdeteksi dari awal kehamilan dan upaya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu maupun bayi belum dapat tercapai sesuai harapan.

Aplikasi ini merupakan aplikasi yang berisi skrining preeklampsia pada usia kehamilan <20 minggu dengan kriteria anamnesis dari faktor risiko ibu. Kemudian data anamnesis ini akan dikalkulasikan menjadi nilai skoring risiko. Nilai risiko ini yang akan membantu tenaga paramedis (bidan) dalam mendeteksi sejak awal ibu berisiko preeklampsia dan melakukan rujukan terencana pada ibu hamil tersebut tanpa menunggu inpartu. Penetapan klasifikasi nilai faktor risiko menggunakan skrining preeklampsia dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak.
Inovasi dari aplikasi skrining preeklampsia ini lebih mudah dan murah serta menjangkau sasaran, sehingga pengguna dapat mendeteksi dan mengetahui sejak awal ibu hamil dengan faktor risiko preeklampsia serta melakukan rujukan terencana pada ibu hamil tersebut tanpa menunggu inpartu.

Penulis mengharapkan dengan adanya aplikasi ini, tidak terjadi lagi eklampsia dan keterlambatan penanganan dalam merujuk ibu hamil dengan preeklampsia, sehingga dapat menekan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.

Sumber:
1. World Health Organization. Maternal mortality [Internet]. 2019. [Diunduh 18 Januari 2022]. Tersedia dari: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/maternal-mortality
2. Poon LC, Shennan A, Hyett JA, Kapur A, Hadar E, Divakar H, et all. The International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO) initiative on pre-eclampsia: a pragmatic guide for first-trimester screening and prevention. Int J Gynaecol Obstet. 2019 May;145 Suppl 1(Suppl 1):1–33.
3. Ogge G, Chaiworapongsa T, Romero R, Hussein Y, Kusanovic et all. Placental lesions assosiated with maternal underperfusion are more frequent in early-onset than in late-onset preeclampsia. J Perinan Med. 2011;39(6):641–52.
4. World Health Organization. Maternal health. Geneva: WHO; 2016.

Baca Lainnya