Kamis, 1 Maret 2018 13:25

Tips Mengenal Informasi Hoaks di Media Sosial dan WhatsApp

Ilustrasi.
Ilustrasi. [Pixabay]

Penulis : Anggi Dwi Putra, Eks Wartawan Bisnis Indonesia

Informasi atau Berita hoaks ada beberapa ciri khas diantaranya:

  1. Judul Bombastis. Ini buat clickbait dan karena 99% orang cuman baca headline. Makanya jangan heran, banyak berita hoaks pasti cuma screenshot gambar saja, bukan link. Masalahnya, bagaimana kita bisa tahu gambar itu sesuai dengan isi beritanya? Baca terus sampe bawah.
  2. Source Abal-Abal. Sumber liputan6.blogspot? Blogspot jadi sumber?, atau kalau klik linknya, biasanya tidak bisa dibuka atau kalau pun bisa dibuka, pasti isinya beda sama beritanya plus banyak iklan, karena website abal-abal sengaja dibuat supaya saat mengkliknya banyak, mereka jual domainnya. Lumayan mahal website yang trafiknya gede, bisa belasan juta. Ujung-ujungnya duit. Biasanya juga mendompleng nama Media terkenal atau nama berbau agama.
  3. Dari Grup Sebelah. Ini paling khas. Seringkali dapat WA atau postingan, “copas dari grup sebelah”. Ini buat ngeles saat ketauan ternyata itu hoaks, mereka bisa berdalih, “Ane cuma share kok, bukan ane yang buat”. Padahal sama-sama berdosa. Kadang juga posting foto lama, tapi dikasih caption baru. Kasus Rohingya salah satu contohnya.
  4. Info Dari Ring 1. Siapa itu ring 1? Hoaks tidak pernah mencantumkan nama sumbernya. “Gebetannya temennya pacar temen SMA babe ane ikut rapat di kampus X. Yang jadi pembicara jenderal. Ceritanya di Indonesia gawat bla bla bla dan tahun 2018 bakal terjadi bla bla bla”. Ini semua menyalahi kaidah jurnalistik. Berita valid harus bisa jawab 5W+1H. Siapa yang bicara? Dimana? Kapan? Dalam rangka apa? Kalau ini tidak bisa terjawab, tidak bisa dibilang berita.
  5. Otoritas Narasumber Bias. Berita hoaks seringkali mencatut nama orang berpengaruh atau tokoh masyarakat, tapi tidak pernah memberitahu siapa yang bicara.

Masih banyak modus-modus lainnya, tapi lima ini yang paling populer. Lantas bagaimana mengenal dan mengeceknya?, bergabung dengan Grup Indonesia Hoaks, mereka biasa membantah (debunked) hoaks yang lagi populer. Tapi juga bisa klarifikasi sendiri. Bagaimana caranya ?

Pertama, install aplikasi “Search by Image”. Hoaks biasanya memakai foto lama yang digoreng lagi. Aplikasi ini bisa mengecek apa itu foto lama atau bukan. Google juga punya Google Reverse Image. Caranya klik fotonya, klik titik tiga di kanan atas, terus klik “share external” trus pilih "open with" aplikasi Search by Image tadi. Aplikasi itu bisa tahu.

Jika beritanya copypaste, bisa search di google. cek sumbernya. Jika masuk 74 media yang diverifikasi Dewan Pers, itu kemungkinan besar baru valid. Media berita harus punya alamat dan redaktur.

Tapi semuanya kembali ke prinsip dasar “People only want to hear what they want to hear and see what they want to see”.

Baca Lainnya