Penulis: Ust. Syamsuddin Baharuddin, Ketua PP Tanfidziah IJABI
"Tak ada kawan dan lawan yang abadi dalam politik. Yang abadi hanyalah kepentingan".
Kalimat itu sering diucapkan bukan hanya oleh pengamat politik, juga para politisi untuk menggambarkan tak sejalannya ucapan dan tindakan para politisi di panggung politik. Inkonsistensi dalam dunia politik praktis mendapatkan pembenarannya melalui kalimat 'magis' itu.
Seperti postingan yang lalu lalang beberapa hari ini di berbagai grup social media di kalangan warga Jawa Barat. Para penjual simbol agama di dunia politik mulai menjajakan sentimen agama untuk mengelabui warga masyarakat. Seolah mereka sedang berjuang untuk membela kesucian agama, padahal yang ia bela sejatinya nafsu dan syahwat kekuasaan.
Salah satu isu yang dijajakan adalah seruan "Jangan pilih calon gubernur yang didukung partai penista agama!", What? Isu yang laku keras dijajakan di Pilgub DKI Jakarta itu juga mulai dijual kepada warga Jawa Barat.
Tak adakah hal lain yang lebih rasional yang bisa dipertarungkan dalam kontestasi politik, semisal rekam jejak prestasi masa lalu para calon?
Publik yang mengikuti pemberitaan dengan cermat tentu saja tahu, bahwa di Pilgub Sulawesi Selatan dan Jawa Timur tidak ada seruan "Jangan pilih calon gubernur yang didukung partai penista agama!" Mengapa? Karena dalam Pilgub di dua provinsi itu, partai (yang merasa) pembela agama justru berkoalisi dan bekerjasama dengan partai (yang dituduh) penista agama dalam mengusung pasangan calon.
Di sana mereka melakukan 'perselingkuhan politik', di sini mereka bak orang suci yang sedang melawan para penista. Disini mereka teriak "Jangan pilih Cagub yang didukung penista agama", di tempat lain mereka bekerjasama dengan kelompok yang mereka tuduh para 'penista agama'.
Cukup dengan mengaktifkan akal sehat (mode-on), masyarakat mestinya dengan mudah membaca bahwa isu (pembela-penista) agama tak lebih dari sekedar komoditas politik yang diperjualbelikan untuk mengibuli orang-orang yang rada malas menggunakan akal sehatnya.
Posisi 'pembela' dan 'penista' agama dengan mudah dipertukarkan, bukan karena sebab ideologi atau aqidah, tapi hanya karena faktor kepentingan. Ya... kepentingan bernama syahwat kekuasaan.
So, masih mau dibodohi (pake) isu agama? Nggak ah, kita masih waras kok
Semoga warga Jawa Barat masih bisa menjaga akal sehatnya.