Minggu, 11 Februari 2018 18:25

Tanjakan Emen Antara Takhayul dan Sejarah Sang Pahlawan yang Terlupakan

Tanjakan Emen.
Tanjakan Emen. [Net]

Penulis : Ir. Oman Abdurahman, M.T., Kepala Museum Geologi Bandung & Pemerhati Sejarah

Kalau kita dari Bandung jalan-jalan ke pemandian air panas Ciater di Utara Lembang atau ke Subang melalui jalur jalan raya Ciater, berkendaraan mobil, pasti kita akan melewati jalan menurun atau menanjak kalau dari arah sebaliknya, yang dikenal sebagai "Tanjakan Emen". Banyak kejadian atau kecelakaan lalulitas yang terjadi di Tanjakan Emen, dan kecelakaan tersebut sering dikait-kaitkan dgn legenda "Mang Emen" yang konon katanya menguasai tanjakan yang berjumlah tiga tingkatan tersebut.

 
Munurut kepercayaan masyarakat setempat, setiap supir yang kendaraannya pas sedang melewati Tanjakan Emen, disarankan untuk menyebut nama "Emen", bahkan ada yang menganjurkan agar sebaiknya sambil melemparkan sebatang atau 2 batang rokok, katanya. Jika tidak, arwah Emen akan marah dan bisa menyebabkan kecelakaan fatal, seperti akibat rem blong, terperosok ke tepi jalan dan tabrakan.

Benarkah demikian? Siapakah Emen itu? Benarkah ia mati karena kecelakaan di tanjakan tersebut dan arwahnya gentayangan mengganggu laulintas di tanjakan antara Tangkubanparahu-Ciater itu ?

Dari ngobrol barusan dengan Abah Nana yang asli putera Sagalaherang, kecamatan yang bersebelahan dengan Kecamatan Ciater, saya baru ngeh tentang sejarah Emen. Menurut cerita Abah, Emen bisa dikategorikan sebagai pahlawan, karena ia gugur dibunuh "gerombolan" DI/ TII dengan cara dibakar didalam bus disuatu titik di jalan raya yang sekarang dikenal sebagai Tanjakan Emen.

Cerita agak lengkapnya begini: Emen adalah seorang supir angkutan umum bus, nama perusahaannya adalah "Bunga", jalur Subang - Bandung pada akhir tahun 1950 an atau awal 1960 an. Nah, rupanya Emen ini selain sebagai sopir bus, juga menjadi mata-mata atau informan untuk pihak tentara (TNI). Emen diam-diam juga sering ketitipan makanan dari markas tentara atau dari rakyat untuk para tentara yang sedang berpatroli atau menjaga keamanan kampung-kampung dan ruas jalan raya dari serbuan DI/TII.

Nah, suatu saat rupanya ada yang membocorkan "pekerjaan" sambilan Emen selain yang utama sebagai supir bus kepada DI/TII. Pada suatu kesempatan, gerombolan berhasil menyergap bus Emen, semua penumpang diturunkan, dan Emen dibiarkan didalam bus sendirian, lalu dibakar oleh gerombolan. Emen pun wafat menjadi abu bersama busnya.

Demikian cerita yang dikisahkan Abah Nana dari ayahnya yang seorang tentara degan jabatan waktu itu "paprada" (penguasa perang daerah) dengan pangkat terakhir mayor yang wafat tahun 2013 dalam usia 86 tahun. Jadi, Emen tidak mati karena kecelakaan lalu arwahnya gentayangan dan suka mengganggu kendaraan yang lalu-lalang. Malah sebaliknya dari sisi pemerintah, Emen bisa dibilang meninggal ketika sedang menjalankan tugas, setidaknya tugas untuk keluarga dan TNI.

Jadi saya memang suka mengikuti anjuran untuk menyebut nama "Emen" ketika melewati tanjakan tersebut, semata-mata untuk mengenang beliau yang dalam konteks perjuangan, sekecil apa pun patut dihargai. Soal anjuran melempar rokok? Saya tak pernah melakukannya, karena bukan perokok. Lagi pula, itu mungkin cerita tambahan karena Emen mungkin perokok, atau akal-akalan perokok di Tanjakan Emen, supaya sering mendapat sebatang-dua batang rokok gratisan.