Ilustrasi.
Ilustrasi. [Net]
Perspektif

Rocky Gerung: Kitab Suci adalah Fiksi?

Penulis: A.M. Safwan - Koordinator Jaringan Aktivis Filsafat Islam (JAKFI) Nusantara

Menurut rocky Gerung dalam ILC semalam (10/4/18) fiksi adalah sesuatu yang memfungsikan imajinasi. Dari pengertian ini menurutnya kitab suci adalah fiksi (karena belum terjadi). Fiksi berlawanan dengan realitas. Dalam agama, menurutnya fiksi adalah keyakinan.

Sementara berdasarkan KBBI, fiksi adalah rekaan, pernyataan yang hanya berdasarkan khalayan, tidak berdasarkan kenyataan atau pikiran.

Ada beberapa hal yang bisa dipahami dan tampaknya tidak ada maksud buruk, bagian per bagian dalam pernyataan ini tentu adalah sebuah ruang dialektika yang menarik, tetapi secara struktur ada kerancuan yang dalam pada kerangka logika dan filsafat dan ilmiahnya:

1. Fiksi sebagai yang belum terjadi TIDAK bertentangan dengan realitas. Karena fiksi belum terjadi sedang realitas apa yang terjadi. Mengapa ini disebut berlawanan?

Yang BELUM terjadi apakah berlawanan dengan yang SUDAH terjadi. Jelas tidak berlawanan, karena yang berlawanan adalah ketika YANG BELUM terjadi dengan YANG TIDAK terjadi, sedangkan fiksi yang dimaksud dalam pernyataan Rocky seperti eskatologi adalah sesuatu yang belum dipastikan akan terjadi atau tidak terjadi.

Jadi fiksi tidak berlawanan dengan realitas, fiksi adalah yang sesuatu yang bisa terjadi bisa tidak terjadi dan ini tidak bertentangan dengan realitas. Dalam filsafat ini disebut KEMUNGKINAN. Jadi fiksi adalah kemungkinan dan KEMUNGKINAN tidak berlawanan dengan REALITAS, Kemungkinan berlawanan dengan tidak mungkin.

Dalil ini menurut menunjukkan dalil atau premis Rocky rancu secara logika dan filsafat apalagi ilmiah.

2. Fiksi memfungsikan imajinasi, dalil ini ada kebenarannya, dalam teori persepsi William Chittick, imajinasi juga dibangun dari dasar ilmiah atau faktual.

Karenanya, kitab suci ada yang merupakan realitas; Muhammad SAW adalah realitas, kiamat adalah fiksi. Jadi kitab suci memuat lebih banyak aspek ilmiah (Ali Syariati) dan faktual dan sedikit saja aspek fiksi (dalam bahasa Rocky).

Teori Imajinasi dalam filsafat Rocky mungkin tidak bersentuhan dengan teori AKAL, akal adalah dasar untuk menghubungkan keyakinan ilmiah dan non ilmiah (fiksi).

Jadi keyakinan bukan dibentuk oleh imajinasi tetapi oleh akal. Walapun memang penjelasan Rocky bahwa dalam agama imajinasi adalah keyakinan dalam hal-hal tertentu memang terjadi tetapi itu bukan dalam teori agama tetapi praktek orang beragama.

Karenanya, pernyataan Rocky tentang agama yang menjadi imajinasi sebagai keyakinan adalah pernyataan yang tidak punya dasar teori, kecuali hanya berangkat dari kasus-kasus.

Dali ini menurut saya membawa Rocky menteorikan agama tidak dengan pertanggungjawaban metodologi, dari mana kesimpulan Rocky bahwa dalam agama, imajinasi adalah keyakinan? Tampaknya lebih banyak kasus per kasus.

Kalau Rocky bukan seorang dosen mungkin bisa dipahami, tetapi sebagai seorang ilmuwan, dalil ini menunjukkan tendensiusnya menganalisa agama (tanpa kecakapan ilmiah, filosofis apalagi logis)

3. Dalil Rocky tentu bukan fiksi alias pernyataan itu fakta karenanya tidak membangkitkan imajinasi apapun dalam diri dari pernyataan-pernyataan tersebut. Karena imajinasi menurut Rocky difungsikan oleh fiksi. Dalil Rocky tidak imajinatif.

Justru menyempitkan ruang intelektual dan dinamika ilmiah dari kitab suci.

Tetapi apapun, pernyataan itu kita hormati, cara menghormatinya dengan mengkritisinya, karena iklim intelektual terlalu didominasi oleh KATA-KATA yang mungkin seringkali menutupi KONSEP dan REALITASnya.

Fiksi dan imajinasi dalam defenisi Rocky ingin dihidupkan dalam ruang dekontruksi sebagai cara membangun konstruksi baru.
Sayangnya masuk dalam ruang publik yang dibentuk dalam benturan dengan bahasa politik.

Baca Lainnya