Jumat, 22 Juni 2018 18:36

Ramai Brosur Ganti Presiden di Cimahi, Pengamat ini Sentil Paslon Asyik

Reporter : Fery Bangkit 
Brosur Pasangan Asyik 2018 Menang 2019 Ganti Presiden.
Brosur Pasangan Asyik 2018 Menang 2019 Ganti Presiden. [Limawaktu]

Limawaktu.id, - Pengamat Politik Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Arlah Sidha menilai, gerakan selembaran bertuliskan '2018 Asyik Menang dan 2019 Ganti Presiden' hanyalah gertakan saja.

Menurutnya, pemasangan brosur maupun spanduk bertuliskan tersebut merupakan strategi dari calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) untuk mencari elektabilitas.

"Paslon ini (Asyik) mungkin akan menarik simpatisan mereka, tapi belum tentu yang lain. Mereka jangan lupa kalau mereka itu kontestan Pilgub yang butuh suara," kata Arlan saat dihubungi, Jum'at (22/6/2018).

Seperti diketahui, belakangan ini, brosur maupun spanduk '2018 Asyik Menang dan 2019 Ganti Presiden' mulai memenuhi berbagai titik di Kota Cimahi. Bahkan, beberapa brosur disebar ke rumah tangga. Lengkap dengan foto pasangan Asyik, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto serta mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

Menurut Arlan, strategi seperti itu tiak akan terlalu menarik simpati masyarakat Jawa Barat. Khususnya pemilih rasional, yang melihat kinerja dari pemerintahan.

"Masyarakat sekarang bisa dibilang lebih mampu berpikir rasional, mereka menilai. #2019GantiPresiden ini kan jadi penilaian juga, dan nantinya berpengaruh ke perolehan suara, kalau golongan rasional ini justru puas dengan kinerja pemerintah saat ini," jelasnya.

Arlan juga menyayangkan apa yang dilakukan tim paslon nomor tiga. Sebab, selain menyalahi aturan, seharusnya paslon lebih menonjolkan program maupun janji politik dari pasangan calon Pilgub yang bersangkutan.

"Ini bisa dibilang kontra inovatif, karena mereka hanya menjual #2019GantiPresiden," tandasnya.

"Sebetulnya sangat disayangkan mereka justru fokus pada tulisan itu, padahal mereka ini calon pemimpin Jawa Barat, yang seharusnya fokus pada program kerja," tambahn Arlan.

Sebelumnya, Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Kania Intan Puspitasari menganggap bahwa hal tersebut wajar. Dijelaskannya, propaganda politik tersebut untuk mengingatkan dan menyemangati masyarakat bahwa tahun 2019 harus ada perubahan.

"Kalau menurut saya, itu hal wajar. Melihat kondisi, pengen juga kita ganti pemimpin," kata Kania.

Baca Lainnya