Jumat, 12 Januari 2018 20:47

Peta Konflik Pemikiran Menjelang Pilpres 2019

Reporter : Saiful Huda Ems (SHE)
ilustrasi
ilustrasi [pixabay]

Limawaktu.id, - Saya perhatikan sudah mulai banyak pendukung elit Prabowo mulai menyadari kesalahan dukungannya selama ini, baik yang menyatakannya secara terang-terangan atau yang menyatakannya secara samar. Sebuah tanda 2019 bukan lagi pertarungan Jokowi vs Prabowo melainkan Nasionalis Modernis vs Nasionalis Konservatif.

Jadi bila di pilpres 2014 menyuguhkan pertaruang figur dua politisi yaitu Jokowi vs Prabowo, namun di Pilpres 2019 akan lebih menyuguhkan pertarungan ideologis yang mana figur dari nasionalis konservatif yang akan diusung sudah akan berganti tak lagi Prabowo, melainkan figur yang lain.

Ini tentu jauh lebih menarik daripada Pilpres 2014 yang lebih didominasi oleh pertikaian perasaan daripada pemikiran, atau dengan kata lain perang antara suka (like) dan tidak suka (dislike) pada sosok Jokowi atau Prabowo.

Sejak awal saya memang sudah menyadari, bahwa pertarungan dua figur nasional yang memanas menjelang Pilpres 2014 hingga detik ini, sebetulnya itu semua hanyalah merupakan pengaruh dari suasana kebatinan kolektif Rakyat Indonesia saja.

Ada narasi pertarungan dua corak pemikiran besar di negeri ini bahkan di dunia yang berpuluh tahun ditutup karena alasan stabilitas politik nasional atau internasional, hingga begitu hal itu terbuka kembali iklim politik menjadi memanas.

Ini bisa dilihat dari bermunculannya konflik politik yang bertemakan SARA. Sedangkan isue-isue seperti bahaya komunisme, syiah dan lain-lain. saya pikir itu hanyalah semacam bumbu penyedap konflik saja.

Ada konflik pemikiran global yang belum pernah dituntaskan, yakni pemikiran modernis vs konservatif itu. Atau bila dipertajam lagi menjadi konflik pemikiran moderat vs radikalis.

Banyak orang yang tidak sadar bahwa pilihan politiknya selama ini lebih dipengaruhi oleh latar belakang pemikirannya yang berada di posisi modernis atau konservatif hingga ia menjadi moderat atau radikal.

Sayangnya dari dahulu hingga detik ini masing-masing orang selalu menganggap bahwa dirinya bukan termasuk yang konservatif melainkan yang moderat. Hal ini terjadi memang karena adanya pergeseran pemahaman antara modernis dan konservatif.

Di zaman dahulu orang kerap menyamakan modernis itu adalah bentuk dari sikap dan pemikiran yang "ngota", kosmopolit dan maju. Sedangkan konservatif dipersepsikan dengan sikap dan pemikiran yang " ndeso", jumud, kuno dan terbelakang.

Kaum modernis dahulu sering mengejek kaum konservatif sebagai kaum yang kolot, ortodoks, sedangkan kaum konservatif sering mengejek kaum modernis sebagai orang yang sok ke barat-baratan karena terpengaruh Westernisasi.

Seiring perkembangan zaman persepsi dua pemikiran itu berubah, modernis di zaman now adalah bentuk atau corak pemikiran yang mengikuti perkembangan zaman dimana rasio menjadi tolak ukurnya, sedangkan konservatif di zaman now diartikan dengan corak pemikiran yang mempertahankan "kebenaran" yang sudah ajeg, baku, atau atatus quo, tanpa mempedulikan hal itu rasional atau tidak.

Yang modernis memperhatikan teks dan konteks, yang konservatif lebih menekankan teksnya saja. Inilah sumber dari silang sengketa pemikiran politik dan beragama menjelang Pilpres 2019 itu.

Baca Lainnya