Senin, 29 Januari 2018 13:52

Mengapa Pendukung Prabowo-Jokowi Bisa Menyatu Mendukung Dedi Mulyadi?

Ditulis Oleh Mahya Lengka
Dedi Mulyadi, bakal calon Wakil Gubernur Jawa Barat.
Dedi Mulyadi, bakal calon Wakil Gubernur Jawa Barat. [Net]

Pada Pilpres tahun 2014 yang lalu, publik Indonesia terbagi ke dalam tiga kelompok figuritas, yang hingga sekarang masih terasa resonansinya. Yakni, kelompok pendukung Presiden Jokowi yang memenangi Pilpres 2014, pendukung Prabowo yang kalah tetapi memiliki pendukung yang tidak kalah besar, dan pendukung SBY yang pada pilpres lalu menyebar kepada kedua figur sebelumnya. Tulisan ini hanya akan membahas pendukung dua figur pertama, yakni Jokowi dan Prabowo, dengan spesifik pada konteks Jawa Barat.

Pada Pilpres 2014 yang lalu, di Jawa Barat, jumlah pemilih Prabowo lebih besar daripada Jokowi, sekalipun tidak terlalu jauh. Riak dukungan antara basis dua kelompok pendukung itu rupanya masih terasa hingga saat ini. Akan tetapi, khusus berkaitan dengan Pilgub Jabar 2018, justru ada fakta yang menarik. Yakni, bersatunya basis dua kelompok pendukung itu untuk mendukung sosok yang menjadi cawagub Deddy Mizwar, yakni Dedi Mulyadi.

Tentu saja maksudnya adalah sebagian pendukung, bukan semuanya. Namun, sekalipun sebagian, tetap saja ini merupakan fakta menarik. Untuk konteks nasional, para pemilih Prabowo tahun 2014 cukup berat kemungkinannya untuk mendukung Jokowi terutama untuk konteks saat ini. Begitu pula sebaliknya, para pemilih Jokowi tahun 2014 takkan mendukung Prabowo untuk hari ini. Basis kedua pendukung itu sepertinya akan kukuh dengan dukungan figuritas masing-masing. Akan tetapi, dalam konteks regional Jawa Barat, kedua basis pendukung yang berbeda itu justru bisa bersatu untuk mendukung sosok Dedi Mulyadi.

Seperti kita ketahui, dalam Pilgub Jabar 2018 ini adalah empat pasangan calon. Yakni Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi, Ridwan Kamil - Uu Ruzhanul Ulum, Hasanudin - Anton Charlian, dan Sudrajat - Ahmad Syaikhu. Berdasarkan konfigurasi partai-partai pendukung, para pendukung Prabowo tidak akan mendukung pasangan Hasanudin - Anton (Hasanah) yang didukung oleh PDIP.

Begitu juga, para pendukung Jokowi tidak akan memilih pasangan Sudrajat - Syaikhu (Asyik) yang didukung oleh Gerindra-PKS-PAN. Akan tetapi, para pendukung Jokowi-Prabowo itu bisa menyebar ke dua pasangan lain, yakni pasangan Deddy-Dedi (2DM) yang didukung oleh Golkar-Demokrat, dan pasangan Ridwan-Uu (Rindu) yang diusung oleh Nasdem-PPP-PKB-Hanura, dengan proporsi yang berbeda.

Pasangan Rindu akan mendapatkan dukungan suara dari para pendukung Prabowo, tetapi sedikit. Mengapa sedikit? Karena, pendukung Gerindra-PKS yang dulu mendukung Ridwan di kota Bandung kini sudah memiliki dukungan sendiri di Pilgub Jabar, yakni pasangan Asyik. Pasangan Asyik akan didukung oleh para pendukung fanatik Prabowo. Hanya saja, masih ada sisa-sisa pendukung Prabowo yang tetap setia memilih Ridwan karena sosok personalnya.

Akan tetapi, jumlah pendukung Prabowo yang memilih Ridwan - Uu kalah banyak oleh dukungan mereka kepada pasangan 2DM. Pertama karena faktor Deddy Mizwar yang memiliki basis suara yang beririsan dengan pendukung Prabowo sendiri. Dan kedua karena faktor Dedi Mulyadi yang berhasil menarik simpati publik pendukung Prabowo kepadanya. Sosok Deddy Mizwar hanya akan menyedot suara pendukung Prabowo, dan tidak suara pendukung Jokowi. Tetapi, sosok Dedi Mulyadi akan menyedot banyak pendukung Prabowo dan Jokowi sekaligus.

Mengapa demikian? Pertama, karena sebagian pemilih Prabowo pada tahun 2014 adalah pendukung Golkar. Sedangkan dalam Pilgub Jabar kali ini Golkar mengusung kadernya yang juga ketua DPD Golkar Jabar sebagai cawagub, yakni Dedi Mulyadi. Kedua, secara personal, sosok Kang Dedi telah berhasil memikat kalangan masyarakat dari berbagai kalangan, termasuk para mantan pendukung Prabowo dulu di luar pendukung Golkar. Saya mengamati sejumlah grup relawan Kang Dedi yang terlihat mereka sebelumnya sebagai pendukung Prabowo.

Pertanyaannya, mengapa sebagian pendukung Prabowo itu tertarik dengan Dedi Mulyadi ketimbang yang lainnya? Jawabannya adalah sebagian kelebihan yang pada Prabowo ternyata ada juga pada sosok Dedi Mulyadi. Misalnya, sebagai contoh, kemampuan orasi keduanya. Banyak orang yang tertarik dengan gaya orasi Prabowo. Tetapi, perhatikanlah cara orasi Dedi Mulyadi yang menggelegar dengan diksi-diksi pilihan. Jika Prabowo adalah orator, Dedi Mulyadi juga orator yang luar biasa. Anda bisa menontonnya dalam sejumlah video Youtube.

Lalu, pada saat yang sama, Dedi Mulyadi juga berhasil membetot simpati dan dukungan dari para pendukung Jokowi. Dalam grup relawan Kang Dedi, saya juga menemukan basis pendukung Kang Dedi yang berasal dari kalangan pendukung Jokowi. Lalu, mengapa mereka bisa mendukung Kang Dedi? Jawabannya jelas, karena sebagian dari gaya dan kelebihan Jokowi ada pada sosok Dedi Mulyadi. Misalnya dalam gaya populisnya, blusukannya, dan gestur tubuhnya yang rendah hati dan hormat kepada sesama.

Itulah sebabnya mengapa sosok Dedi Mulyadi berhasil menarik dukungan dan simpati dari basis pendukung dua sosok yang secara nasional berbeda, yakni Jokowi dan Prabowo. Dari kedua sosok ini, Kang Dedi mendapatkan dukungan para pendukung yang kurang lebih sama besarnya. Berbeda dengan pasangan Rindu yang terlihat lebih besar didukung oleh sebagian pendukung Jokowi ketimbang oleh sebagian pendukung Prabowo.

Sehingga di situlah keunggulan basis suara Dedi Mulyadi. Kalau saya coba simpulkan, sosok Kang Dedi itu boleh dikatakan merupakan gabungan dan keunggulan Jokowi dan Prabowo. Dan seiring dengan berjalannya waktu, sama dengan sosok Jokowi-Prabowo, kini sosok Kang Dedi bahkan telah memiliki basis pendukung fanatiknya sendiri, yang memecah keutuhan fanatisme dukungan untuk sosok Prabowo-Jokowi sebelumnya.

Anda boleh percaya atau tidak, tetapi silakan perhatikan bagaimana para penduukung Kang Dedi kini telah tumbuh menjadi para pecintanya, yang rela berlelah-lelah dan berkorban. Perhatikan juga setiap acara di mana Dedi Mulyadi tampil, semisal dalam acara Safari Budaya akhir-akhir ini. Para warga selalu berjubel mengikuti acara Kang Dedi hingga selesai, bahkan ketika hujan turun pun mereka tetap bertahan.

Melihat fenomena ini, malah saya membuat pengandaian. Andaikan saja para Pilpres 2019 nanti ada tiga pasangan calon yang terdiri dari pasangan Jokowi, Prabowo dan Dedi Mulyadi, maka Kang Dedi akan menjadi sebuah blok tersendiri yang memiliki para pendukung fanatik, yang sebelumnya mendukung Prabowo atau Jokowi. Blok ini bisa memecah fanatisme dua blok pendukung sehingga lebih tersebar dan cair. Artinya, sebagian pendukung Jokowi dan Prabowo beralih menjadi pendukung Dedi Mulyadi. Dan dari pengamatan sederhana terhadap beberapa grup relawan Kang Dedi, kemungkinan itu besar terjadi. Anda para pembaca bisa memperhatikan sendiri.

Memang saat ini kiprah Dedi Mulyadi masih bersifat regional Jawa Barat. Namun figuritasnya sudah menasional, baik karena kiprah prestasi pribadinya yang sering terpublikasikan oleh media, maupun oleh kiprah institusionalnya yang menarik perhatian publik secara nasional, terutama saat fenomena pelengseran Setya Novanto yang dimobilisasi olehnya hingga melahirkan Munaslub Partai Golkar Desember 2017 lalu yang bikin heboh.

Dalam Pilgub 2018 ini, Dedi Mulyadi memang "hanya" sebagai cawagub. Tetapi pemberitaan, sorotan bahkan serangan kepadanya justru sangat dominan, mengalahkan para cagub sendiri. Terutama di kalangan para pendukung fanatiknya, Kang Dedi itu cawagub dengan citarasa gubernur. Slogan "urang lembur jadi gubernur" tetap menggema sekalipun dengan sedikit perubahan redaksi, "urang lembur jiwa gubernur".