Kamis, 1 Februari 2018 17:46

Memahami Metode Dakwah Dedi Mulyadi

Reporter : Mahya Lengka
Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi. [Net]

Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Inilah yang dilakukan oleh Dedi Mulyadi hingga hari ini. Dalam satu acara ia bisa melakukan beberapa hal sekaligus. 

Kang Dedi itu seorang kyai, juga seorang pemimpin dan budayawan. Karenanya ia mengeksplorasi berbagai cara untuk menyebarkan kebajikan, nilai-nilai dan ajaran keislaman, dengan bahasa dan cara yang mudah dimengerti oleh masyarakatnya.

"Khaatib al-naasa bi qadri uquulihim," sabda Nabi. Ajaklah manusia berkomunikasi sesuai taraf akal mereka.

Makanya Kang Dedi menjelaskan ajaran-ajaran Islam dengan bahasa dan ungkapan yang mudah dicerna pendengar. Ia jelaskan konsep tauhid, cara shalat, memaknai takbiratul ihram, ruku, sujud, dan lainnya dengan uraian dan bahasa rakyat kebanyakan. Orang-orang umum menyebut cara ini dengan cara budaya. Dalam Al-Quran cara ini disebut dengan cara bilhikmah dan maw'izhah hasanah.

Ada banyak video dan acara yang memperlihatkan Kang Dedi berdakwah dengan cara ini. Salah satunya lihatlah Kang Dedi saat ia menjalani kegiatan Safari Budaya di Desa Cikadut Kota Bandung, Selasa 30 Januari 2018 tadi malam. Videonya bisa kita lihat di akun Facebook-nya.

Sambil mengajarkan ketauhidan. Sambil mencontohkan dan memaknai praktik ubudiyah kepada Gusti Allah. Sambil mengajarkan akhlak kepada sesama manusia, lingkungan dan alam. Sambil menghibur orang-orang yang sedang berduka. Kang Dedi juga menolong dan memberi, mengajak orang berbagi, agar yang diberi kelak mampu memberi.

"Kang Dedi itu seperti Sunan Kalijaga, berdakwah dengan seni dan budaya," kata Habib Luthfi bin Yahya.

Dakwah itu tidak cukup dengan kata-kata. Dakwah juga bisa dengan nada, dengan bunyi, bahkan dengan tindakan nyata. Segala hal bisa menjadi media dan fasilitas untuk mengajak manusia pada kebaikan dan kebenaran.

Karena manusia sangat beragam, maka dibutuhkan banyak media dan cara untuk menyentuh mereka semua. Karenanya jangan batasi cara dan media untuk berdakwah dan menebarkan kebaikan. Selagi ada banyak cara yang bisa ditempuh, dan kita bisa melakukannya, lakukan sebanyak-banyaknya. Jika belum bisa, belajarlah. Jika belum bisa juga, dorong orang lain yang berkemampuan untuk melakukannya.

Karena menyampaikan kebenaran itu kewajiban semua orang, maka banyak cara bisa dijalankan sesuai kemampuan masing-masing dan kesempatan yang dimiliki. Barangsiapa membatasi cara orang lain berbuat baik dan menyebarkan kebaikan, berarti ia menghalangi kebaikan sampai kepada manusia.

Berbicara itu mudah. Yang sulit adalah bukti dalam tindakan. Jika seseorang membatasi peluang kebaikan hanya pada ucapan, maka ia akan kehilangan banyak kesempatan untuk menebar kebaikan.

Kata-kata itu hanyalah sebuah cara, dan ia kalah kuat dibandingkan tindakan. Karena perbuatan itu lebih fasih ketimbang ucapan. Lisaanul haal afshahu min lisaanil maqaal.

Maka, gunakan berbagai fasilitas dan cara untuk mengajak orang pada kebaikan, dan berbuat baik.

Masukilah berbagai pintu untuk meraih kebaikan. Karena pintu rahmat-Nya tidak satu. Pintu-Nya banyak, dan ada di mana-mana. Jangan berpuas diri dengan satu pintu, karena setiap pintu memiliki keunggulannya sendiri.

Mungkin satu pintu cocok untuk seseorang, sementara orang lain cocok dengan pintu yang berbeda. Jika ada banyak pintu yang terbuka, maka akan banyak pula orang memasuki rahmat-Nya.

Baca Lainnya