Jumat, 8 Desember 2017 16:41

Melodrama Peringatan Hari HAM

Illustrasi
Illustrasi [Pixabay]

Oleh : Dr. Wawan Gunawan

10 Desember 1948 Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mendeklarasikan Hak Asasi Manusia (HAM) berlaku untuk seluruh umat manusia secara universal, sedangkan secara formal hari HAM diperingati sejak 1950. Puluhan tahun berikutnya khususnya di negeri ini isu HAM terus dikumandangkan tapi banyak di antara kita yang abai pada implementasi Kewajiban Azasi Manusia (KAM) bahkan hingga kini tidak ada peringatan KAM. Padahal, sebelum menuntut hak maka semestinya kewajiban dulu ditunaikan.

Fenomena tersebut seperti sebuah melodrama atau drama yang memilukan sekaligus ironis. Karenanya jangan heran jika banyak orang yang dengan sadar menghina, menghardik bahkan mencacimaki orang atau pihak lain dengan mengatasnamakan HAM. HAK sudah dijadikan dewa untuk kebebasan.

Padahal, orang atau pihak yang bersuara atau bertindak atas nama HAM tapi tidak mengindahkan KAM sama saja dengan melanggar HAM itu sendiri. Lihat konten media sosial yang bertebaran dengan ujaran kebencian sebab kebebasan sudah dianggap ideologi dan ketertiban dianggap hanya tanggungjawab aparat keamanan.

Itulah cara berfikir picik, menuntut kebebasan atas nama HAM tapi mengingkari menciptakan ketertiban. Oleh karena itu saya menggagas dan mengusulkan secara terbuka agar juga diperingati hari Kewajiban Azasi Manusia di negeri ini. Ada peringatan Hari HAM ada juga peringatan Hari KAM.

Peringatan Hari KAM menjadi penting dan relevan di negeri ini sebab isu SARA acapkali dijadikan lahan bagi segelintir orang untuk memporakprandakan kohesi sosial atas nama HAM. Isu SARA adalah bahaya laten di republik yang heterogen ini yang setiap saat dapat melahirkan konfliks horizontal bahkan konfliks vertikal. Selamat memperingati hari HAM sambil Mari kita gagas peringatan Hari KAM.

Wawan Gunawan, Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) Cimahi

Alumnus S3 Ilmu Pemerintahan Universitas Padjadajaran (UNPAD) Bandung