Selasa, 6 Februari 2018 12:23

Melawan Politisasi Islam Dengan Kebhinekaan

Satyariga Sukman, Ketua Relawan Insan Merdeka Indonesia (R-IMI)
Satyariga Sukman, Ketua Relawan Insan Merdeka Indonesia (R-IMI). [Limawaktu]

Penulis: Satyariga Sukman, Ketua Relawan Insan Merdeka Indonesia (R-IMI)

Mayoritas generasi muda yang lahir tahun 1970-an telah tercerabut dari akar budayanya dan timbulnya problematik keber-agamaan, yakni adanya ketidak-rukunan antar mazhab didalam Islam serta keretakkan antar umat beragama selama dua dasawarsa sejak ORBA yang otoriter-tiranis yang menggembalakan manusia Indonesia supaya seragam dalam berfikir itu bubar.

Dengan berdirinya partai-partai berazas dan memakai casing Islam fahaman impor ideologi Islamisme, tumbuhlah kelompok - kelompok muslim radikal yang mengatasnamakan Islam. Agama sebagai sarana politik, Islamisme atau mempolitisasi Islam. Impor limbah fahaman ideologi yang sudah dibubarkan oleh negeri-negeri asalnya itu sangatlah tidak toleran dengan budaya luhur bangsa Indonesia atau budaya lokal di Nusantara. Kini sedang terjadi pergulatan seru ‘Islam versus Islamisme’ di pangkuan Ibu Pertiwi.

Stagnasi kebudayaan di masa Orba itu masih kuat mempengaruhi masa kini. Keunggulan Indonesia yang memiliki beragam budaya lokal yang memiliki mekanisme atau cara pertahanannya sendiri, namun Indonesia sebagai negara-bangsa belum mempunyai filter kebudayaan sejak masa Orba sampai sekarang. Kecenderungan keretakkan antar umat beragama semakin massif dan kompleks, baik di lingkungan perkotaan maupun lingkungan pedesaan.

Arus deras informasi global dari media elektronik yang mengepung semua lapisan kehidupan masyarakat yang tertinggal dan sedang berkembang itu tidak dipersiapkan dahulu dengan upaya pencerahan pemikiran dan pembangunan mentalitet masyarakat, diantaranya menumbuhkan-menguatkan budaya baca-tulis.

Sistem pendidikan yang masih indoktrinatif dengan metode tembak peluru atau searah, duduk-dengar-catat-hapal masih diberlakukan, semestinya relevansi Indonesia masa kini-masa depan adalah sistem pendidikan dialogis dimana guru sebagai subyek, murid pun sebagai subyek. Mengembangkan etos budaya-keahlian kreatifitas dan originalitas idea-imajinasi mandiri di masyarakat anak-anak dan pemuda.

Adanya kesenjangan lebar antara memakai (impor) produk canggih dengan cara berfikir yang belum maju (canggih)-terutama di pedesaan. Ditambah memburuknya kondisi lingkungan hidup secara terbuka, diakui mempengaruhi dinamika sosial politik dan sosial ekonomi masyarakat, baik di tingkat komunitas, regional maupun nasional. Pada kenyataannya, krisis keber-agamaan, krisis kebangsaan dan krisis lingkungan hidup itu secara langsung mengancam kenyamanan dan meningkatkan kerentanan kehidupan setiap warga negara.

Dampak ketidak-harmonisan cara berfikir terlihat dari cara hidup bermasyarakat kita, seperti sering terjadi pembunuhan dengan hukum massa, perilaku anarkis-sarkastis di semua ruang publik, di dalam sekolah, di dalam rumah tangga, bahkan pernah terjadi di dalam gedung parlemen dan di ruang studio talk show televisi yang sedang ditonton masyarakat.

Konsumerisme, gaya hidup hedonis yang mengejar kenikmatan semata, dan perilaku korup nyaris sudah menjadi budaya. Sungguh kehidupan berbangsa separuh sudah dekaden. Dampak yang tak kalah gentingnya adalah dampak kerusakan lingkungan hidup, hadir di rumah kita, seperti kelangkaan air bersih, pencemaran air dan udara, banjir dan kekeringan, serta energi yang semakin mahal. Siapa yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan hidup kian sulit dipastikan karena penyebabnya sendiri bertautan baik antara-sektor, antar-aktor, antar-institusi, antar-wilayah dan bahkan antar-negara.

Untuk menjamin keberlanjutan kehidupan generasi mendatang, dibutuhkan gerakan sosial yang kuat dan meluas dari Ornop-LSM, Ormas, Yayasan, komunitas relawan. Kemauan politik positif dari legislatif-eksekutif yang berpihak pada pemecahan masalah dan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat. Generasi mendatang kualitasnya tidak lebih dari yang dinikmati generasi sekarang. Untuk itu, generasi sekarang zaman now bertanggung jawab supaya generasi mendatang memperoleh hak-hak keberlanjutan hidup, termasuk didalamnya memperoleh hak-hak lingkungan hidup yang berkualitas.

Sudah 52 tahun dari masa orba sampai kini; oleh generasi umur 50 tahunan, puncaknya terasa kesenjangan multidimensional manusia Indonesia itu pada tahun 1993 sampai sekarang ini.

Tingkat dan akselerasi keretakkan sosial-kemanusiaan, saat ini, telah lebih jauh berubah menjadi masalah sosial politik dan bencana kemanusiaan. Permasalahan keretakkan kemanusiaan di Indonesia diantaranya disebabkan internal sebagian manusia Indonesia dan Islam tercerabut dari lokalitas yang semula sejarahnya mendukung kehadirannya di belahan bumi pertiwi.

Arus pengaruh impor faham Islam salafi wahabi-radikalisme-Islamisme yang sebagian sudah tertanam di sebagian komunitas atas-menengah dan lebih banyak lagi di komunitas bawah, telah lebih jauh berubah menjadi masalah sosial, bahkan politik. Aktivitas pembangunan demokrasi yang baru, dan diharapkan serasi dengan tradisi luhur pun bisa terganggu.