Rabu, 7 Maret 2018 16:57

MCA Bersembunyi Diketiak Umat Islam

Ilustrasi.
Ilustrasi. [Net]

Penulis: Eko Kuntadhi

MCA itu Muslim Cyber Army. Itu nama yang diciptakan sendiri, akibatnya orang akan mengidentifikasi sesuai dengan nama itu. Ketika MCA digulung polisi sebagai kelompok penebar hoaks, bukan berarti polisi menangkap umat Islam. Yang ditangkap polisi adalah penebar hoaks dan fitnah. Yang ditangkap polisi adalah pengacau di medsos. Gak ada hubungannya dengan agama yang dianut.

Saat polisi menangkapi mereka yang menggunakan nama MCA, bukan berarti polisi menangkapi umat Islam yang aktif dakwah di internet. Anggapan itu adalah generalisasi untuk membenturkan penegakkan hukum dengan bersembunyi di ketiak umat.

Kasus mesum yang tersebar di berbagai media dengan chat dan pose nudis itu kasus termasuk kategori kriminal. Ketika seorang penceramah agama dijadikan tersangka karena kasus itu, bukan berarti polisi menjadikan penceramah agama sebagai tersangka. Dia sebagai tersangka karena berbuat mesum. Gak ada hubungannya dengan profesinya sebagai pendakwah.

Nah, slogan kriminalisasi ulama itu seperti ingin menyembunyikan perilaku buruk seseorang di ketiak ulama. Dia berusaha menyembunyikan aibnya ke dalam jubah keulamaan.

Atau ketika ada seorang jemaah gereja yang aktif memberikan sumbangan ditangkap polisi karena korupsi. Yang ditangkap adalah seorang koruptor. Bukan statusnya sebagai jemaat gereja.

Mau duit korup digunakan untuk membangun 10 gerejapun, dia tetap saja ditangkap.

Sama seperti ketika seluruh dunia memerangi kelompok yang menamakan dirinya IS (Islamic State). Yang diperangi adalah perilaku biadabnya. Bukan karena membawa nama Islam.

Atau ketika Indonesia memutuskan melarang HTI, seperti yang dilakukan Saudi atau Turki. Yang dilarang itu adalah organisasi yang berkehendak mengubah dasar negara. Yang membahayakan masa depan bangsa.

Bahwa orang-orang HTI berdalih mereka sedang berdakwah, tapi dakwahnya membawa kerusakan kehidupan berbangsa, negara wajib memberangusnya.

Bukti kerusakan yang ditimbulkan HTI bisa dilacak dari para tersangka teroris. Ada belasan tersangka teroris di Indonesia, yang pernah bersentuhan dengan ajaran HTI.

Jadi bukan dakwahnya yang dilarang. Tapi jenis 'dakwah' yang kemudian menginspirasi orang untuk menjadi teroris yang wajib dihabisi. Masa negara mau membiarkan kanker di tubuhnya berkembang liar?

Jika pelarangan HTI ini diplintir menjadi pemerintah memusuhi umat Islam, sekali lagi ini cuma strategi HTI untuk bersembunyi di ketiak umat.

Perilaku orang seperti itu, seperti perusuh yang melempari polisi dengan batu. Lalu ketika dikejar mereka berusaha membaur dengan kumpulan orang lainnya. Tujuannya agar kumpulan orang yang sebetulnya baik-baik saja itu, akan melawan polisi. Padahal yang dikejar polisi adalah oknum yang melempar batu itu. Bukan seluruh kumpulan orang yang lain.

Orang dipermasalahkan karena perilakunya, bukan karena status sosialnya. Atau apa agamanya. Itu dulu yang harus kita jadikan pegangan.

MCA tukang fitnah, ISIS, 'ulama' yang kriminal, atau HTI adalah para perusuh pelempar batu yang berusaha bersembunyi di balik ketiak umat Islam. Mereka selalu berupaya membenturkan umat Islam dengan siapapun yang dianggap lawan mereka.

Lalu bagaimana mestinya reaksi kita? Ya, jangan mau dimanfaatkan oleh para pengasong agama seperti ini. Pisahkan diri kita dari mereka, lalu desak polisi menegakkan hukum. Sebab gerombolan seperti merekalah yang membuat hidup bergama ini menjadi rusak.

Sekali lagi, perilaku mereka seperti orang yang melempar batu, lalu bersembunyi di balik ketiak umat Islam. Kerjanya cuma bikin rusuh.

"Mungkin karena manusia itu diciptakan Tuhan dari tanah, mas," ujar Bambang Kusnadi.

"Maksudnya, Mbang?"

"Iya, orang-orang yang suka membuat rusuh dan onar itu, mungkin diciptakan dari tanah sengketa, mas."