Kamis, 12 April 2018 12:57

Kritik Terhadap Rocky Gerung: Pernyataan Fiktif Tentang Kitab Suci

Reporter : Jumadi Kusuma
Illustrasi
Illustrasi [Pixabay]

Penulis: Ust. Dr. Muhsin Labib, Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra, Jakarta

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fiksi adalah kata benda yang bermakna "rekaan, khayalan, tidak berdasarkan kenyataan" sedangkan Fiktif adalah adjektif yang bermakna "bersifat fiksi".

Fiksi ditinjau dari segi bahasa dalam Oxford Dictionary dan Cambridge Dictionary semakna dengan yang ditetapkan di KBBI, yaitu :

1. Kata benda literature dalam bentuk prosa, terutama novel, yang menggambarkan peristiwa-peristiwa dan orang-orang imajiner.

2. Sesuatu diciptakan atau tidak benar. Keyakinan atau pernyataan yang salah, tetapi sering dianggap benar karena disampaikan dengan gaya yang terkesan bijak sehingga dianggap benar.

Dari tinjauan literasi, fiksi (fiction) pada dasarnya adalah bentuk tulisan yang menggambarkan kisah-kisah epik tokoh-tokoh imaginer.

Fiksi dibuat dan didasarkan pada imajinasi penulis. Cerita pendek, novel, mitos, legenda, dan dongeng semuanya dianggap fiksi. Sementara pengaturan, titik plot, dan karakter dalam fiksi kadang-kadang didasarkan pada kejadian kehidupan nyata.

Fiksi termasuk dalam kategori utama dalam genre tulisan, terbagi dalam bermacam-macam sub genre seperti fiksi realistik, fiksi sejarah, fantasi, fiksi sain, horror, roman, remaja, thriller, fiksi etnik, petualangan dan lain lain.

Menganggap Kitab Suci sebagai fiksi, berarti menganggapnya "rekaan, khayalan, tidak berdasarkan kenyataan" yang jelas ditolak oleh seorang teis yang mempercayai kitab suci tersebut.

Mungkin lebih tepat diksinya kalau mengatakan kitab suci itu prediktif karena mengatakan sesuatu fakta yang terjadi di masa depan.

Kalau memakai istilah filsafat, prediksi itu potensialitas, sedangkan fiksi itu aktualitas (karena sudah berupa pernyataan bahwa sesuatu itu hanya rekaan).

Memaksakan ajektif menjadi noun adalah penistaan bahasa dan dan penodaan logika.

Yang menggabungkan dua kata dalam sebuah premis tanpa mematuhi  sistematika logika bahasa tak hanya bukan filsuf, tapi tak ber-IQ tinggi pula.

Menampik kritik dengan menganggap fiksi sebagai positif dan fiktif sebagai negatif adalah pengibulan.

Fiksi adalah kata tentang substansi rekaan. Fiktif adalah kata tentang predikat bagi sesuatu yang bersifat rekaan. Pernyataan "kitab suci itu fiksi" adalah fiktif.

Bila bermaksud menyebut prediktif, lalu yang nyembur adalah kata "fiktif', maka ini termasuk kasus yang perlu ditangani neurolog.

Baca Lainnya